Connect with us

News

Wow, Ada Kelelawar Raksasa di Aceh

Published

on

kelelawar

Kilasjogja.com, NASIONAL – Warga di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dihebohkan dengan penangkapan kelelawar raksasa.

Cerita bermula ketika warga di daerah Saree, Aceh Besar menangkap kemudian membunuh kelelawar raksasa itu dan bangkainya dibuang ke sungai, pada Juli 2017 lalu.

Zainal Abidin Suarja, Ketua Natural Aceh mengatakan menurut informasi warga di daerah Saer, Aceh Besar sayap kelelawar raksasa bila dilebarkan dengan posisi terentang bisa mencapai dua meter. Kelelawar raksasa ini pun termasuk hewan langka.

“Kelelawar raksasa itu dibunuh karena warga takut menculik anak-anak atau hewan piaraan,” terangnya.

Saat ini, tim Natural Aceh pun membuat riset awal dan menemukan fakta awal bahwa di beberapa daerah Aceh dan sekitarnya sempat muncul kelelawar besar. Namun, belakangan si kelelawar raksasa itu mulai menghilang.

Tim Natural Aceh pun merancang penelitian khusus atas kelelawar raksasa ini. Selain menangkap sekitar 200 kelelawar untuk diteliti, tim juga memburu si kelelawar raksasa di Gunung Seulawah, Aceh Besar.

Untuk memburunya, tim riset memasang jerat di empat ragam lokasi yakni gua, hutan, lahan warga dan juga pemukiman. Setiap jam sekali jerat itu diperiksa. Kelelawar raksasa yang terjerat nantinya akan dipasangi gelang pelacak.

Riset ini bertujuan untuk menyelamatkan berbagai spesies kelelawar dari kepunahan. “Nanti masyarakat jangan terkejut kalau melihat kelelawar bergelang hijau. Itu tanda sudah diidentifikasi,” jelasnya.

Kelelawar merupakan hewan pemakan buah atau mengambil nektar dari buah tersebut, yang berperan penting bagi penyerbukan bunga tanaman di perkebunan warga setempat. Kotoran hewan ini mempunyai kandungan nitrogen yang tinggi.

Tempat tinggal kelelawar selalu di pohon. Sehingga, secara otomatis kotoran mampu menyuburkan tanah di sekitarnya. “Kami berharap hasil penelitian terhadap hewan mamalia ini bisa dipublikasikan demi kepentingan ilmu pengetahuan,” ungkapnya.

Mystacina Miocenalis

Jauh sebelumnya, tim paleontolog asal Universitas New South Wales Australia berhasil menemukan fosil kelelawar purba di Central Otago, kawasan yang terletak di kepulauan Selandia Baru bagian selatan.

Fosil yang ditemukan berupa beberapa bagian tulang dan gigi kelelawar purba. Ilmuwan memperkirakan ukuran kelelawar itu mencapai tiga kali kelelawar biasa dan berjalan dengan dua kaki. Oleh ilmuwan, spesies kelelawar purba itu diberi nama Mystacina miocenalis.

Menariknya, kelelawar ini diklaim masih bersaudara dengan kelelawar Mystacina tuberculata yang saat ini hidup di hutan-hutan tua Selandia Baru.

Berdasarkan penelitian lanjutan, diketahui fosil itu berasal dari masa 16 juta tahun yang lalu. Oleh ilmuwan, hal itu dianggap sebagai awal kemunculan kelelawar Mystacina di negara tetangga Australia itu.

“Penemuan kami membuktikan bila kelelawar Mystacina sudah ada sejak 16 juta tahun lalu. Kelelawar purba itu juga menempati daerah serta memakan makanan yang sama seperti kelelawar modern,” ujar Profesor Suzanne Hand.

Menurut Profesor Suzanne Hand, ukuran kelelawar Mystacina mengecil karena disebabkan oleh kebutuhan terbang dan pergerakan yang cepat.

Dengan ukuran raksasa, tentu akan sulit bagi mereka untuk terbang di antara pepohonan, terlebih mereka lebih mengandalkan indera pendengaran ketimbang indera penglihatan.

Oleh sebab itu, ilmuwan menduga mereka terus berevolusi dan berakhir dengan ukuran relatif kecil seperti saat ini.

“Ukuran besar yang tidak biasa itu membuat mereka sedikit terbang dan lebih banyak berjalan di tanah untuk mendapatkan makanan. Otomatis mereka harus berhadapan dengan musuh yang berukuran besar,” katanya.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.