Connect with us

News

Tanam Pohon Pecahkan Rekor Dunia

Published

on

pohon

Kilasjogja.com, GUNUNGKIDUL – Misi pemecahan rekor dunia Guinness akan kembali diulang Koperasi Produsen Anegerah Bumi Hijau (Koprabuh) pada 9 Desember 2017.

Pemecahan rekor dunia penanaman pohon terbanyak secara serentak dalam waktu satu jam, akan ditanam 250 ribu pohon pada lahan 50 hektar melibatkan 10 ribu petani akan dilakukan di wilayah Gunungkidul.

Pemecahan rekor dunia dengan penanaman pohon besar-besaran secara serentak dalam waktu satu jam oleh Koprabuh terlaksana di Tuban, Jawa Timur pada 2016.

Untuk persiapan acara pemecahan rekor dunia penanaman pohon secara serentak di Gunungkidul, Koprabuh beraudiensi dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X di Gedhong Wilis, Kepatihan.

Ambassador Koprabuh artis Titiek Puspa mengungkapkan, penanaman pohon secara besar-besaran dalam rangka menjaga alam tetap terpelihara, ketersediaan oksigen tetap terjamin bagi anak cucu di kemudian hari.

“Seorang manusia Indonesia, sesuai arahan Presiden Jokowi, diharapkan menanam setidaknya 25 pohon selama hidup, agar anak cucu kita kelak dapat bernafas dengan baik,” terang Titiek Puspa.

Dikatakan artis berusia 80 tahun itu, terkait dengan program Koprabuh, di Kalimantan terealisasi proyek penanaman pohon eksotis dan pohon buah-buahan pada Titiek Puspa Akademic Zone.

Selain akasia, di lahan kritis milik petani di Desa Bedoyo dan Karangasem Ponjong Gunungkidul akan ditanami pohon buah-buahan tiga jenis jambu, kaliandra dan disarankan Sultan agar ditanam pohon jati.

Yohanes , Ketua Koprabuh menjelaskan program penanaman pohon yang digalakkan pihaknya memberikan keuntungan bagi petani. Pohon buah-buahan menghindarkan serangan monyet ke lahan pertanian milik petani.

Bagi orang kota yang tak punya lahan dan tak mampu menjaga tanaman, bisa berdonasi satu pohon senilai Rp 100 ribu dan penanamannya diberikan kepada petani sekaligus proses perawatannya.

Dari donasi itu, di samping menjaga kelestarian alam, masyarakat petani akan menikmati hasil. “Menanam pohon tidak mudah. Sewaktu-waktu pohon bisa mati. Daripada yang hidup terlalu banyak yang mati akibat kurang dirawat, karena itu dibutuhkan tangan petani. Petani disiapkan bisa menyemai bibit dan mengganti tanaman yang mati,” jelas Yohanes.

Menurut Yohanes, gerakan penghijauan semestinya selalu diulang-ulang dikarenakan penanaman pohon banyak yang mati ketimbang yang hidup. Apabila yang terlibat reboisasi adalah kalangan krah putih yang ada hanya seremoni.

“Yang sukses menanam harus petani. Mereka terlibat dalam pembibitan, penanaman, perawatan.  Orang kota, mereka yang berdasi, tolong bantu petani supaya anak-anak tetap bisa menghirup udara segar buat bernafas,” ungkapnya.

 

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.