Connect with us

News

Sekolah Siap Terapkan Sistem Zonasi

Published

on

zonasi

Kilasjogja.com, BANTUL- Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2018/2019 di sekolah-sekolah akan menggunakan sistem zonasi.

Bagi daerah-daerah perbatasan, sistem zonasi dianggap menguntungkan karena akan terjadi pemerataan kualitas siswa di seluruh sekolah, dimana siswa dengan nilai tinggi tidak mengumpul di beberapa sekolah tertentu.

Kepala Balai Pendidikan Menengah (Dikmen) Dikpora Bantul, Drs Suhirman MPd mengatakan berdasarkan aturan yang ada sistem zonasi mengatur 90 persen diperuntukkan kuota untuk casis terdekat dengan jarak rumah.

Adapun persyaratan berdasarkan KK yang diterbitkan paling lambatal enam bulan. Adapun radius zona terdekat juga ditetapkan berdasarkan ketersediaan daya tampung, rombongan belajar (rombel).

Sementara untuk jalur prestasi maksimal lima persen, jalur domisili luar zonasi pindahan akibat bencana dan sebagainya sebanyak lima persen.

“Bagi siswa kurang mampu mendapatkan kuota 20 persen dari daya tampung dengan menunjukkan SKTM,” terangnya.

Kepala SMAN 1 Banguntapan, Drs Ir Joko Kustanta,MPd mengatakan sekolahnya yang merupakan sekolah perbatasan antara Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta menyatakan siap dan mendukung pelaksanaan Permendikbud tentang PPDB dengan sistem zonasi.

Hal ini karena dengan sistem zonasi akan terjadi pemerataan input siswa, jarak siswa ke sekolah menjadi lebih dekat, mengurangi kepadatan lalu lintas saat jam masuk sekolah.

“Dan yang paling penting adalah kompetisi antar sekolah menjadi fair dan sesuai dengan kreativitas dan kerja keras sekolah masing-masing,” jelasnya.

Joko menambahkan dengan sistem zonasi sekolahnya sama sekali tidak khawatir termasuk khawatir kekurangan siswa.

Hal ini lantaran letak posisi sekolah berada di perbatasan sehingga tetap diburu oleh calon siswa dari luar kabupaten Bantul seperti Sleman dan Kota yang jarak dengan sekolah tidak terlalu jauh.

Berdasarkan data dari SMAN 1 Banguntapan, dari 224 siswa baru, 25 persen dari luar Kabupaten. Untuk nilai masuk tahun lalu, tertinggi sekitar 37.00 dan terendah sekitar 31.00 dengan rerata nilai yang masuk 33.90.

Kepala SMAN 1 Bantul, Dra Titi Prawiti S,MPd mengatakan selama kebijakan ini sudah dikaji dan untuk kebaikan bersama pihaknya mengaku siap dan tidak mempermasalahkan.

Meski saat ini di sekolahnya merupakan sekolah yang tergolong favorit karena masuk sudah dengan nilai tinggi, namun ketika menerapkan sistem zonasi nanti, pihaknya akan menerapkan treatment khusus pengelolaan kelas supaya kualitas siswa tetap terjaga.

“Meski masuk dengan nilai yang tidak begitu tinggi, kedepan kami punya treatment tertentu untuk membuat siswa bisa meningkat prestasinya. Bagi kami zonasi atau tidak tetap tidak ada masalah,” ungkapnya.

Adapun pengalaman tahun lalu, siswa asal Bantul yang masuk di SMAN 1 Bantul sekitar 40 persen, sementara sisanya berasal dari kecamatan lain bahkan sebagian kecil pindahan luar provinsi dan dari luar kabupaten.

Dengan jumlah siswa dalam satu tahun ajaran baru sebanyak 288 siswa dengan nilai tertinggi 40.50 dan terendah 36.00. Adapun rata-rata yakni 38.10.

 

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.