Connect with us

News

Saatnya Menabung Air Hujan!

Published

on

air hujan

Kilasjogja.com, SLEMAN – Hujan tak kunjung turun membuat kekeringan di beberapa wilayah di Indonesia, termasuk Yogyakarta. Gejala itu ditunjukkan dengan semakin mengeringnya penampungan ataupun sumber air, sehingga persediaan air bersih kurang.

Akan tetapi hal itu tidak akan terjadi jika masyarakat menabung air hujan dan tidak menyia-nyiakan air tanah.
Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DI Yogyakarta, kekeringan masih akan terjadi hingga akhir September.

Sementara musim hujan baru akan datang pada Oktober dan November. Mengacu pada citra satelit awan, pertumbuhan awan-awan konvektif yang berpeluang hujan belum signifikan. Selain itu suhu udara di Yogyakarta antara 21-33 derajat Celcius.

Dr Ing Ir Agus Maryono, dosen Magister Teknik Sipil UGM sekaligus peneliti masalah pengelolaan air, memiliki solusi untuk mengatasi masalah kekeringan yaitu menabung air hujan.

Menabung air hujan dengan cara memasukkannya ke sumur-sumur resapan sebanyak-banyaknya dan membuat ekodrainase dengan jargon tampung, resapkan, alirkan dan pelihara (TRAP).

Cara lainnya yaitu, mengubah budaya masyarakat dan beberapa pihak terkait. Budaya tersebut di antaranya mempersiapkan diri menghadapi bencana kekeringan.

“Aktivitas memanen dan menabung air hujan harusnya bisa menjadi suatu gerakan masyarakat menghadapi bencana kekeringan dan tidak selalu bergantung pada pemerintah,” terangnya.

Menurutnya, ketidaksiapan masyarakat menimbulkan penderitaan ketika kekeringan melanda berbagai daerah di Indonesia.

Antisipasi dan melakukan persiapan saat musim penghujan sebelumnya, merupakan cara preventif yang bisa dilakukan masyarakat.

Sedangkan kuratif menggunakan cara-cara ‘pragmatis emergency’, misalnya dengan mencari sumber-sumber air, menunggu droping air dan membeli air.

Sementara cara kuratif bisa dengan mencari sumber air yang masih tersisa, misalnya di sumber-sumber air sepanjang sungai, sumber air pada sungai bawah tanah, sumber air sekitar danau, telaga dan situ, sumber air sekitar rawa, serta sepanjang saluran irigasi dan drainase.

Agus yakin melakukan pengelolaan air hujan yang baik dapat meningkatkan kualitas lingkungan disamping mengurangi bencana banjir dan kekeringan.

Kecuali itu berdasarkan penelitian yang pernah ia lakukan, air hujan jauh lebih baik dari air PDAM yang selama ini masih digantungkan masyarakat.

“Kualitas air hujan yang turun di Yogyakarta cukup bagus. Salah besar jika muncul pola pikir masyarakat jika air hujan lebih jelek dibanding air PDAM,” jelasnya.

Membangun telaga ataupun situ dengan pemasangan batu dan membabat habis pepohonan di sekitarnya, justru memperburuk cadangan air jika musim kemarau datang. Sebab, keberadaan pohon di sekitar telaga justru sebagai pengaman persediaan air.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.