Connect with us

Jogja

Populasi Lansia Terbesar di Indonesia ada di D.I Yogyakarta

Published

on

lansia
foto via alodokter.com

Kilasjogja.com, YOGYAKARTA – Tahukah Anda, bahwa populasi lansia terbesar di Indonesia ada di kota yang kita cintai ini? di paparkan oleh Dr Ni Wayan Suriastini, M Phil dari Survey Matter di 20th Asia Pacific Regional Conference Alzheimer Disease International yang diadakan di Jakarta, para peneliti melakukan survei terhadap 100 desa di DI Yogyakarta yang melibatkan 2.000 lansia dan 1.400 pengasuh.

Hasilnya menunjukkan bahwa prevalensi demensia di daerah tersebut mencapai 20 persen, lebih tinggi dari prevalensi global dalam semua kelompok usia. apa itu demensia? Demensia adalah sebuah sindrom yang berkaitan dengan penurunan kemampuan fungsi otak, seperti berkurangnya daya ingat, menurunnya kemampuan berpikir, memahami sesuatu, melakukan pertimbangan, dan memahami bahasa, serta menurunnya kecerdasan mental. Sindrom ini umumnya menyerang orang-orang lansia di atas 65 tahun.

Kenapa bisa terjadi hal tersebut? untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut kita harus melihat setiap faktor yang diteliti oleh Dr Ni Wayan Suriastini dan kolega.

Jika dilihat dari faktor edukasi, para peneliti menemukan bahwa prevalesi demensia tertinggi ada pada kelompok yang tidak pernah menjalani pendidikan formal.

Hal yang sama juga ditemukan bila dilihat dari pekerjaan. Mereka yang tidak bekerja, terutama ibu rumah tangga, lebih rentan terkena demensia, disusul oleh para pria yang bekerja di bidang agrikultur.

Lalu, berdasarkan lokasi, warga DI Jogjakarta yang tinggal di area terpencil, seperti Gunung Kidul, lebih rentan terkena demensia daripada warga yang tinggal di Kota Yogyakarta.

Para peneliti pun mengonklusikan bahwa sebetulnya ada beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan terkena demensia, yaksni usia yang lebih lanjut (80 tahun untuk pria dan 65 tahun untuk wanita), tinggal di daerah terpencil, edukasi rendah, stroke, dan tidak bekerja.

Dr Ni Wayan Suriastini berkata bahwa faktor-faktor di atas dapat dikaitkan dengan kurangnya aktivitas yang menstimulasi otak.

Seorang ibu rumah tangga yang tinggal di daerah terpencil dan tidak pernah menjalani edukasi formal, misalnya, lebih jarang menjalani aktivitas yang menstimulasi otak bila dibanding dengan seorang bapak yang bekerja sebagai manajer di Kota Yogyakarta.

Permasalahan ini juga menjadi semakin kompleks setelah para peneliti mensurvei para pengasuh. Mereka menemukan bahwa hanya 0,3 persen dari pengasuh yang menganggap gejala awal demensia sebagai awal mula dari penyakit degeneratif tersebut.

Pages: 1 2 3 4

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.