Connect with us

News

Per hari, Penduduk Sleman Hasilkan 8.000 Meter Kubik Sampah

Published

on

Sampah

Kilasjogja.com, SLEMAN – Per tahun 2017, jumlah penduduk Sleman diperkirakan mencapai 1.068.157 jiwa. Sayangnya, masih banyak masyarakat belum memprioritaskan pengelolaan sampah.

Padahal, di kabupaten ini terdapat 275 bank sampah dan 31 kelompok pengelola sampah mandiri yang merupakan kegiatan masyarakat.

Kurangnya minat masyarakat mengelola sampah di bank sampah karena kurang inovasi. Selama ini kencederungannya begitu sampah sudah jadi tabungan, selesai. Tidak ada inovasi berkelanjutan.

Padahal berdasarkan data Badan Lingkungan Hidup (BLH) DIY, total timpunan sampah di Sleman mencapai 8.000 m3/hari. Dari jumlah tersebut 60 persen diantaranya adalah sampah plastik.

“Di Sleman begitu sampah masuk ke bank, sudah selesai. Tidak ada inovasi lain. Bahkan banyak bank sampah yang mati. Sosialisasi tentu harus terus ditingkatkan. Termasuk pemakaian teknologi,” terang Hempri Suyatna dari Forum Pemantau Independen (FORPI) Kabupaten Sleman.

Hempri mencontohkan di Malang Jawa Timur. Disana ada asuransi kesehatan yang berbasis sampah. Jadi, masyarakat yang ingin berobat cukup membayar menggunakan sampah yang sudah mereka kumpulkan sendiri dirumah.

“Bank sampah perlu inovasi agar masyarakat merasa mendapat banyak keuntungan bila menabungkan sampahgnya,” jelasnya.

Halik Sandera, Sementara itu Direktur Eksekutif WALHI Yogyakarta  mengatakan, masyarakat diharapkan membuat perencanaan pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Sayur, buah maupun yang lain.

Jika memang harus membeli barang kemasan, usahakan pilih yang menghasilkan sampah sedikit atau yang bisa digunakan kembali. Masyarakat juga harus tahu jenis sampah apa yang mereka hasilkan agar bisa menilah sesuai dengan jenis.

“Memilah sampah itu bisa mendatangkan manfaat bagi kehidupan,” ungkapnya.

Memilah atau memisahkan sampah organik dan non-organik umumnya masih jarang dilakukan masyarakat di rumah, padahal kegiatan mudah dan tanpa biaya.

Keuntungan lainnya yaitu,  dengan memilah sampah organik dan nonorganik di rumah maka lingkungan rumah menjadi lebih bersih.

Selain itu, sampah-sampah nonorganik yang sudah dipilah, bisa langsung diberikan kepada pengepul. Kegiatan memilah sampah di rumah, sudah menjadi budaya di beberapa negara maju, salah satunya Jepang.

Di Jepang sampah-sampah nonorganik selalu dipisahkan sebelum dibuang.

 

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.