Connect with us

Nasional

Pelaku Penembakan Sesama Anggota Brimob Stres Karena Utang

Published

on

penembakan sesama anggota Brimob

Kilasjogja.com, NASIONAL – Kapolri Jenderal Tito Karnavian telah melakukan investigasi mengenai insiden penembakan sesama anggota Brimob di Blora, Jateng. Dia memastikan motif itu karena masalah internal.

“Motifnya sementara pribadi, stres karena utang,” terangnya.

Pada RDP tersebut banyak anggota komisi yang mempertanyakan sebab-sebab terjadinya aksi main tembak anggota Brimob terhadap rekannya sendiri ini.

Kapolri menyatakan mengenai teknis peminjaman senjata api dan penggunaan senjata api sudah melalui aturan internal yang sangat ketat.

Ada peraturan Kapolri yang mengatur penggunaan senjata api dan setiap penembakan ada pertanggungjawaban.

“Tata cara pinjaman melalui tes psikologi dan ini sesuai prinsip dalam negeri dan internasional,” jelasTito.

Tito menyebutkan, kasus di Blora masih dalam penanganan. Pihaknya akan memberi sanksi kepada atasan petugas itu jika terjadi kelalaian.

“Pembinaan pengawasan satuan pimpinan yang bersangkutan, kita memiliki aturan sanksi yang cukup keras,” ungkapnya.

Sebagaimana diberitakan harian ini, kemarin, insiden penembakan dan bunuh diri personel Brimob telah ditangani Polda Jateng.

Seorang anggota Brimob, Bripka Bambang Tejo, menembak mati dua rekannya sesama anggota Brimob saat bertugas jaga di lokasi pengeboran sumur minyak Sarana Gas Trembul (SGT) di Blora.

Rekannya meninggal akibat tembakan yang diduga dilakukan Bambang Tejo. Setelah itu, disusul kematian pelaku dengan bunuh diri menembak kepalanya sendiri.

Dua anggota Brimob yang menjadi korban adalah Brigadir Budi Wibowo (30) dan Brigadir Ahmad Supriyanto (35).

Poengky Indarti, Komisioner Kompolnas  menyatakan  kejadian penembakan sesama anggota Brimob di Blora itu harus menjadi titik awal kepolisian untuk mengevaluasi pengawasan penggunaan senjata.

Kejadian tersebut harus menjadi pelajaran agar meningkatkan pengawasan penggunaan senjata.
Sebagai anggota Brimob seharusnya melakukan serangkaian pemeriksaaan untuk memastikan kelayakan penggunaan senjata api.

Anggota Brimob seharusnya memiliki kecakapan menggunakan senjata api secara fisik dan mental.

Menurut Poengky, pemeriksaan perlu dilakukan berkala setiap enam bulan, terutama terkait kejiwaan personel.

Dengan begitu, apabila ada permasalahan kejiwaan bisa terdeteksi dan penggunaan senjata bisa dievaluasi.

Selain itu, tes lain juga dilakukan adalah tes urine untuk mengetahui apakah yang bersangkutan pengguna narkoba atau tidak.

Anggota kepolisian harus mematuhi Peraturan Kapolri (Perkap) No 1 tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian. Penggunaan senjata merupakan upaya terakhir untuk penindakan polisi.

Selain itu, mereka juga harus tunduk kepada Perkap No 8 Tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara.

Dalam peraturan tersebut disebutkan ketika akan menggunakan senjata api, aparat kepolisian harus patuh pada asas-asas legalitas, proporsionalitas dan nesesitas atau kebutuhan. Regulasi itu harus dipatuhi kepolisian yang membawa senjata api.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.