Connect with us

Bantul

Pasar Imogiri Bantul Menuju SNI

Published

on

Pasar Imogiri Bantul

BANTUL – Tidak lama lagi Pasar Imogiri Bantul akan berpredikat Standar Nasional Indonesia (SNI). Rencananya pasar ini akan dijadikan salah satu prototipe pasar berstandar SNI berbasis pada kearifan lokal.

Sejauh ini pengelola Pasar Imogiri terus berbenah diri dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Baik dari aspek yang berhubungan dengan jual-beli di pasar serta pelayanan prima di semua aspek bagi pengunjung.

Besari Sulistyowati, Kepala Seksi Sarana Prasarana dan Distribusi Perdagangan Dinas Perdagangan Bantul mengatakan ada beberapa pertimbangan ketika mengajukan Pasar Imogiri agar mendapatkan SNI.

Pasar Imogiri Bantul sudah tujuh kali menjadi juara pasar bersih tingkat kabupaten dan merebut juara pertama manajemen pasar, administrasi pasar dan pasar sehat tingkat Provinsi DIY.

“Harapannya Pasar Imogiri lolos dan mendapatkan label SNI sekaligus dijadikan pasar percontohan,” terangnya.

Chandrini Mestika Dewi, Direktur Standarisasi dan Pengendalian Mutu Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan mengatakan Pasar Imogiri merupakan satu-satunya pasar di DIY yang bakal diaudit untuk mendapatkan SNI.

Hal ini karena Pasar Imogiri telah memenuhi syarat dari aspek segi fasilitas, persyaratan umum, teknis hingga pengelolaan. Kearifan lokal di Pasar Imogiri dijadikan percontohan bagi pasar-pasar lain dengan karakter sama. Sehingga standarisasi pasar tidak diartikan sebatas menjadi modernisasi pasar.

“Kami ingin standarisasi itu tidak mematikan kearifan lokal yang ada, tapi mempertahankan dan saling menguatkan,” jelasnya.

Terkait dengan efek pemberian SNI, Chandrini mengatakan akan ada standar yang harus dipatuhi oleh pengelola maupun pedagang setelah mendapat predikat SNI . Baik dari segi fasilitas maupun tata kelola pasar. Sehingga Pasar Imogiri menjadi lebih bersih, nyaman dan tertata.

Untuk memperoleh SNI, Pasar Imogiri telah melalui beberapa tahapan. Fase pertama dilakukan Maret 2017, kemudian pada Mei 2017 dan ketiga pada Agustus 2017 ini.

“Senang kalau pasarnya lebih bersih dan dikenal. Masyarakat semakin banyak yang belanja,” ungkap Warsini, pedagang sayur mayur.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Bantul

10 Desa Implementasikan Sistem Informasi Desa

Published

on

Sistem Informasi Desa

Kilasjogja.com, BANTUL– Guna mendukung Kabupaten Bantul sebagai kawasan smart city, 10 desa telah memiliki aplikasi Sistem Informasi Desa (SID).

10 desa tersebut di antaranya Desa Pendowoharjo, Panggungharjo, Tirtohargo, Srihardono, Tirtomulyo, Bangunjiwo, Mulyodadi, Sidomulyo, Triwidadi dan Guwosari.

“Sesuai UU Desa No 6 Tahun 2014 pasal 86, pemerintah daerah wajib mengimplementasikan SID dalam pengembangan kawasan pedesaan,” terang Ir Fenty Yusdayati MT, Kepala Badan Perencanaan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bantul.

Menurutnya, program SID juga untuk meningkatkan pelayanan masyarakat di tingkat desa dan digunakan untuk membuat berbagai kepentingan desa.

Program SID yang berfungsi layaknya website desa ini juga dapat menampilkan potensi dan informasi bahkan bisa untuk mencetak beberapa surat keterangan tertentu.

BACA JUGA: Mutasi Kapolres Sleman dan Gunungkidul

Bupati Bantul, Drs H Suharsono, menegaskan semua desa harus siap dan bisa untuk mengikuti kemajuan teknologi.

Salah satunya dengan penerapan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) yang terintegrasi dengan SID.

“Program SID akan berdampak positif terhadap kualitas dan efisiensi terutama dalam hal administrasi kependudukan,” jelasnya.

Continue Reading

Bantul

DPUPKP Bantul Fokus Pembersihan Tumpakan Sampah

Published

on

tumpakan sampah

Kilasjogja.com, BANTUL – Dinas Pekerjaan Umum(DPU) Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Bantul secepatnya akan membersihkan tumpakan sampah di bawah jembatan wilayah Bantul.

Langkah tersebut diambil untuk melindungi konstruksi jembatan jika sewaktu-waktu terjadi banjir susulan. Persoalan sampah akan segera dibereskan secepatnya.

“Cukup mengkhawatirkan jika tidak secepatnya dibersihkan bisa mengancam jembatan nantinya. Sampah-sampah itu harus segera di ambil,” terang Yitno, Kepala Seksi Pengelolaan Jaringan Irigasi Bidang Sumber Daya Air, Dinas Pekerjaan Umum(DPU) Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Bantul,

Tiang jembatan di Bantul yang dipenuhi sampah terdapat di daerah Ketonggo Pleret, Pijenan Pandak, Soko Pundong, Klegen, Mejing Bambanglipuro memerlukan alat berat untuk proses pembersihan sampahnya.

BACA JUGA: Per hari, Penduduk Sleman Hasilkan 8.000 Meter Kubik Sampah

Sementarta untuk tiang jembatan di daerah Pijenan, Klegen, Mejing dilakukan pembersihan secara manual. Khusus tiang jembatan di daerah Sindet dan Siluk akan segera dimasukkan dalam agenda pembersihan.

“Jika tidak secepatnya mengancam jembatan bisa pondasi atau struktur lain,” jelasnya.

Program pembersihan sampah akan dibawah kendali Badan Penanggulagan Bencana Daerah (BPBD) Bantul. Sehingga ketika hujan deras dan banjir kembali datang sampah tersebut tidak lagi membahayakan jembatan.

Continue Reading

Bantul

Bantul Usulkan Pembangunan Stasiun Kereta Api

Published

on

Pembangunan

Kilasjogja.com, BANTUL –  Pemerintah Daerah DIY terus mengupayakan pembangunan, pemerataan dan pengembangan di kawasan Selatan.

Salah satu daerah di bagian Selatan yang diusulkan untuk pengembangan kawasan adalah Samas Bantul. Adapun pengembangan yang rencananya dilakukan dengan model Transit Oriented Development(TOD), dimana jalur kereta api dan jalan akan dimanfaatkan untuk pengembangan kawasan.

“Salah satu hal yang dibahas dalam pertemuan adalah adanya usulan pengembangan kawasan Samas menjadi kawasan baru. Pengembangan kawasan ini akan memanfaatkan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) yang sudah dibangun. Serta Jogja Outer Ringroad (JOR) yang akan dibangun melewati Bantul,” terang Gatot Saptadi, Sekretaris Daerah (Sekda) DIY.

Gatot mengungkapkan, meskipun rencana itu sifatnya masih jangka, tapi tetap dibutuhkan perencanaan yang matang. Termasuk seandainya jalur kereta api di kawasan tersebut akan dihidupkan.

“Kalau untuk kereta bisa dari bandara baru atau jalur Utara ( tugu). Namun karena untuk mengaktifkan jalur lama sifatnya jangka panjang. Jadi untuk saat ini pengembangan kawasan akan memanfaatkan JJLS dan JOR,” ungkapnya.

Bupati Bantul Suharsono mengatakan pihaknya sempat mengusulkan pengembangan kawasan Samas. Kawasan Samas dipilih selain tanahnya yang masih luas, di daerah tersebut juga tidak ada gumuk pasir yang harus dilindungi.

Mengingat untuk pengembangan kawasan dibutuhkan tanah sekitar 100 hektar. “Walaupun lokasinya di Samas, namun kawasan tersebut akan diberi nama Parangtritis II. Rencana saya nanti akan ada kereta api di Samas, sebagai pintu masuk Bantul. Soalnya di Kulonprogo sudah ada Bandara Internasional baru, maka di Bantul akan ada stasiun kereta api,”ujarnya.

Menurut Suharsono, berdasarkan arahan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X, secara prinsip mempersilahkan dan meminta untuk membicarakan rencana tersebut dengan pihak PT KAI. Mengingat sampai saat ini belum ada keputusan dengan PT KAI. Untuk pembangunan dibutuhkan tanah seluas 100 hektare dan kebanyakan merupakan Sultan Ground.

“Biar Bantul nantinya jadi semakin ramai. Rencananya Bantul ada stasiun kereta api. Saya berharap dengan cara ini bisa. meramaikan perbatasan Bantul dan Purworejo,” katanya.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
loading...

Headline Berita