Connect with us

Bantul

Omzet Jutaan Rupiah Penjual Kembang

Published

on

Jual Kembang

Kilasjogja.com, BANTUL – Malam satu suro atau yang biasanya bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender hijriyah selalu dinanti oleh penjual kembang di Pantai Parangkusumo, Bantul.

Penyebabnya, mereka bisa membawa pulang uang jutaan rupiah dari berdagang bungan dalam semalam. Pembelinya adalah mereka yang melakukan ritual di petilasan di tempat bertemunya Panembahan Senopati dengan Ratu Kidul di ‘Batu Cinta’ dalam Cepuri Pantai Parangkusumo.

Nantinya, mereka kemudian melarung sesaji ke pantai. Rupanya membawa berkah tersendiri bagi para penjual kembang di depan pintu masuk menuju pantai.

“Laris terus. Ini anak saya beli lagi di Pasar Beringharjo,” terang Waginah, penjual kembang di Pantai Parangkusumo.

Wanita 78 tahun asal Sanden ini sudah mulai berjualan di depan pintu masuk Cepuri Pantai Parangkusumo pukul 10.00 WIB. Dia bahkan sejak subuh sudah belanja aneka ragam kembang dan perlengkapan sesaji di Pasar Beringharjo.

Ibu tujuh anak ini mengatakan, berjualan kembang waktu malam satu suro di Pantai Parangkusumo memang menjanjikan. Pasalnya pasti banyak masyarakat yang membeli sesaji pada mereka. Terlebih harga yang ditawarkan tergolong murah.

“Jualnya satu paket sesaji Rp 5.000. Isinya ada mawar, melati, kanthil sama kenangan. Mau ditambah kemenyan atau minyak wangi bayar Rp 5.000 lagi,” jelasnya.

Saat malam satu suro, ia bisa menghabiskan sekitar 10 kilogram kembang aneka ragam untuk sejaji. Wajar jika penghasilannya berjualan pun bisa mencapai angka juta rupiah semalam.

“Modalnya saja besar pasti dapatnya jutaan. Tapi setiap satu suro dagangan pasti laris,” ungkapnya.

Menjual sesaji di Pantai Parangkusumo rupanya tak boleh sembarang. Ada aturan ‘tak tertulis’ yang harus ditaati para penjual kembang sejak lama.

Seperti sesaji untuk petilasan dan yang hendak di larung ke pantai harus berbeda. Untuk sesaji di petilasan Cepuri biasanya hanya berisi mawar putih, merah, kanthil, kenanga, melati di tambah kemenyan.

Untuk yang dilarung ke laut hanya adamawar putih, melati dan kanthil. “Biasanya pembeli pada bilang, Untuk petilsan atau di larung ke pantai. Karena isi-nya memang beda,” ujarnya.

Uniknya, mayoritas penjual kembang di Pantai Parangkusumo sudah dilakukan secara turun temurun. Seperti Waginah ini yang sengaja membawa anak keduanya, Tumilah (34) ikut berjualan kembang di depan pintu masuk Pantai Parangkusumo.

“Di suruh nemenin sekalian belajar sama ibu buat nerusin jualannya nanti,” jawabnya dengan nada bicara pelan.

Ibu empat anak ini mengatakan, dengan membuka tempat dagangan lebih dari satu dengan harapan uang hasil uasahanya bisa bertambah lagi. Mereka pun akan berdagang selama satu hari satu malam penuh.
“Ramainya memang cuma satu suro. Hari Selasa dan Jumat kliwon ndak begitu ramai seperti ini,” katanya.

Hal serupa juga dilakukan oleh Sri (65). Dirinya sengaja membawa Sari (31) anaknya berjualan kembang dengan harapan bisa meneruskan usaha orangtuanya kelak jika telah tiada.

“Saya baru jualan dua kali pas satu suro. Biasanya setiap hari cuma di rumah urus sawah,” tukas ibu empat anak ini.

Berjualan kembang saat malam satu suro memang cukup menguntungkan. Sari sendiri mengaku baru setengah hari berjualan sudah mendapat uang sekitar Rp 600.000. “Lumayan laris dagangan kembang punya saya sama ibu,” tandas Sari.

 

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Tinggalkan Balasan

Bantul

Try-out Konsep Bandara Ala SMA Buma

Published

on

try out SMA

Kilasjogja.com, BANTUL – Untuk pertama kalinya, OSIS SMA Negeri 1 Pleret Bantul (SMA Buma) menggelar latihan ujian sebelum ujian nasional (UN) atau try-out untuk siswa dan siswi SMP se Kabupaten Bantul.

302 peserta tercatat mengikuti even bertajuk The First Time Buma in Try-out.

Konsep yang diusung pada try-out  kali ini cukup unik karena mengambil tema airport atau bandara.

“Konsep try-out-nya unik. Waktu pengumuman di kelas suaranya seperti waktu di dalam bandara,” terang Diah, salah satu peserta.

Ketua acara try-out, Yudhatama RWA mengatakan konsep bandara ini sengaja dipilih untuk membuat nyaman peserta try-out ketika mengerjakan soal.

Mereka akan merasakan sensasi menengerjakan soal seperti di dalam bandara.

“Sekolah kami desain seperti bandara. Di depan pintu masuk ada pesawat dan sistem gate. Sebelum masuk peserta juga harus check in terlebih dulu untuk mendapat nomor kursi,” jelas cowok yang juga menjabat sebagai Ketua OSIS SMA Buma.

 

Acara Try-out dimulai sejak pukul 07.00 WIB – Selesai. Sebanyak 100 soal dari tiga mata pelajaran meliputi IPA, Bahasa Indonesia dan Matematika diberikan untuk dikerjakan dalam waktu dua jam.

Cukup singkat, karena bila mengikuti jumlah soal dan waktu seperti try-out biasanya akan banyak memakan waktu.

Setiap kelas diawas dua panitia yang terdiri dari pengurus OSIS dan Majelis Permusyawaratan Kelas (MPK).

“Untuk pengadaan soal kami berkerjasama dengan lembaga pendidikan Neutron,” ungkapnya.

Sambil menunggu pengumuman hasil try-out, para peserta bisa mengikuti ragam hiburan yang digelar di lapangan upacara, seperti musik, pagelaran karya seni, pemutaran film pendek dan pembagian doorprize  dengan hadiah utama satu unit sepeda.

 

 

Nilai tertinggi try-out kali ini diraih oleh Dewi Ratna Sari dengan jumlah nilai 30.80 dan nilai rara-rata 7.70. Nilai tertinggi kedua didapat M Alfa Nur Hani (29.60/7.40) dan ketiga adalah Muhammad Nur Latif (29.60/7.40). Peraih nilai tertinggi mendapat hadiah uang pembinaan dan sertifikat.

“Tujuan try-out tentu untuk mengenalkan SMA Negeri 1 Pleret dan membantu siswa siswi kelas IX SMP/MTs dalam mempersiapkan diri jelang Ujian Nasional,” kata Drs Imam Nurrohmat, kepala sekolah SMA Negeri 1 Pleret Bantul.

Continue Reading

Bantul

Pekan Depan Nasib PHL Ditentukan

Published

on

PHL Bantul

Kilasjogja.com, BANTUL – Nasib para Pegawai Harian Lepas (PHL) yang sebelumnya tidak diperpanjang kontrak dan dinyatakan Tidak Memenuhi Syarat (TMS), kembali mendatangi kantor DPRD Bantul.

Pasca pertemuan dengan dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Komisi A DPRD Bantul beberapa waktu lalu, telah disepakati sebanyak 346 PHL yang dinyatakan TMS akan dikaji ulang untuk dapat bekerja kembali.

Koordinator PHL, Raras Rahmawatiningsih, menuturkan mereka datang ke DPRD untuk mempertanyakan kejelasan apakah mereka akan dipekerjakan kembali. “Kami hanya mempertanyakan kejelasan nasib kami,” jelasnya.

Wakil Ketua Komisi A, Heru Sudibyo, menambahkan proses pengkajian masih tetap terus berjalan. Ditargetkan pada pertengahan Februari mendatang hasilnya sudah dapat diakses. Heru menyatakan proses pengkajian dilakukan bagi 346 PHL yang dinyatakan TMS. Dari 346 PHL ini akan diseleksi lagi terutama dari sisi umur, pendidikan dan sebagainya.

“Misalnya kalau usia sudah lebih dari 56 hingga 58 tahun memang sebaiknya sudah tidak masuk kriteria untuk dikontrak lagi. Begitu pula dengan pendidikan minimal yang harus lulus jenjang SD dan bisa baca tulis. Meski tukang sapu misalnya, kalau tidak lulus SD juga kayaknya berat mau dikontrak lagi,” jelas Heru.

Dirinya berjanji, pihak Komisi A akan mengawal proses seleksi dan pengkajian ulang bagi PHL yang TMS. Ditambahkannya, dalam proses pengkajian tersebut, OPD butuh waktu terutama mengklasifikasikan dari sisi usia, ijazah serta penempatan yang sesuai.

“Kita tidak bisa memastikan sebanyak 346 PHL ini seluruhnya dikontrak kembali atau tidak. Tetapi paling tidak, mana PHL yang masih masuk kriteria untuk dapat bekerja kembali dan dikontrak lagi,”ungkapnya.

Continue Reading

Bantul

Sekolah Siap Terapkan Sistem Zonasi

Published

on

zonasi

Kilasjogja.com, BANTUL- Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2018/2019 di sekolah-sekolah akan menggunakan sistem zonasi.

Bagi daerah-daerah perbatasan, sistem zonasi dianggap menguntungkan karena akan terjadi pemerataan kualitas siswa di seluruh sekolah, dimana siswa dengan nilai tinggi tidak mengumpul di beberapa sekolah tertentu.

Kepala Balai Pendidikan Menengah (Dikmen) Dikpora Bantul, Drs Suhirman MPd mengatakan berdasarkan aturan yang ada sistem zonasi mengatur 90 persen diperuntukkan kuota untuk casis terdekat dengan jarak rumah.

Adapun persyaratan berdasarkan KK yang diterbitkan paling lambatal enam bulan. Adapun radius zona terdekat juga ditetapkan berdasarkan ketersediaan daya tampung, rombongan belajar (rombel).

Sementara untuk jalur prestasi maksimal lima persen, jalur domisili luar zonasi pindahan akibat bencana dan sebagainya sebanyak lima persen.

“Bagi siswa kurang mampu mendapatkan kuota 20 persen dari daya tampung dengan menunjukkan SKTM,” terangnya.

Kepala SMAN 1 Banguntapan, Drs Ir Joko Kustanta,MPd mengatakan sekolahnya yang merupakan sekolah perbatasan antara Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta menyatakan siap dan mendukung pelaksanaan Permendikbud tentang PPDB dengan sistem zonasi.

Hal ini karena dengan sistem zonasi akan terjadi pemerataan input siswa, jarak siswa ke sekolah menjadi lebih dekat, mengurangi kepadatan lalu lintas saat jam masuk sekolah.

“Dan yang paling penting adalah kompetisi antar sekolah menjadi fair dan sesuai dengan kreativitas dan kerja keras sekolah masing-masing,” jelasnya.

Joko menambahkan dengan sistem zonasi sekolahnya sama sekali tidak khawatir termasuk khawatir kekurangan siswa.

Hal ini lantaran letak posisi sekolah berada di perbatasan sehingga tetap diburu oleh calon siswa dari luar kabupaten Bantul seperti Sleman dan Kota yang jarak dengan sekolah tidak terlalu jauh.

Berdasarkan data dari SMAN 1 Banguntapan, dari 224 siswa baru, 25 persen dari luar Kabupaten. Untuk nilai masuk tahun lalu, tertinggi sekitar 37.00 dan terendah sekitar 31.00 dengan rerata nilai yang masuk 33.90.

Kepala SMAN 1 Bantul, Dra Titi Prawiti S,MPd mengatakan selama kebijakan ini sudah dikaji dan untuk kebaikan bersama pihaknya mengaku siap dan tidak mempermasalahkan.

Meski saat ini di sekolahnya merupakan sekolah yang tergolong favorit karena masuk sudah dengan nilai tinggi, namun ketika menerapkan sistem zonasi nanti, pihaknya akan menerapkan treatment khusus pengelolaan kelas supaya kualitas siswa tetap terjaga.

“Meski masuk dengan nilai yang tidak begitu tinggi, kedepan kami punya treatment tertentu untuk membuat siswa bisa meningkat prestasinya. Bagi kami zonasi atau tidak tetap tidak ada masalah,” ungkapnya.

Adapun pengalaman tahun lalu, siswa asal Bantul yang masuk di SMAN 1 Bantul sekitar 40 persen, sementara sisanya berasal dari kecamatan lain bahkan sebagian kecil pindahan luar provinsi dan dari luar kabupaten.

Dengan jumlah siswa dalam satu tahun ajaran baru sebanyak 288 siswa dengan nilai tertinggi 40.50 dan terendah 36.00. Adapun rata-rata yakni 38.10.

 

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
loading...

Headline Berita