Connect with us

Travel

THE LOST WORLD CASTLE : Replika Benteng Takeshi dan Tembok Besar China

Published

on

The Lost World Castle

Kilasjogja.com, TRAVEL – Nama The Lost World Castle  booming dan menjadi viral di media sosial seperti instagram. Bangunan unik berbentuk kastil yang terletak di Kepuharjo, Cangkringan, Sleman layak dikunjungi.

‘The Lost World Castle’ dibangun tahun 2013.  Bangunan kastil amat terasa jika melihat bentuk bangunan di sekeliling. Sepintas mirip seperti Benteng Takeshi (nama acara permainan realitas asal Jepang) atau tembok besar China.

Ini terlihat dari tembok berwarna kelabu yang tinggi dengan pos-pos penjagaan setiap beberapa meternya.
Untuk masuk ke tempat ini, pengunjung diwajibkan membayar tiket Rp 15.000.

Masuk ke area depan, Anda langsung disuguhkan pemandangan lereng gunung Merapi dari ketinggian.

Untuk kenyamanan pengunjung, pengelola sengaja menaruh beberapa batu alam berukuran sedang berbentuk per segi empat.

Batu-batu ini bisa dimanfaatkan untuk duduk atau sekadar foto selifie. Jika jalan terus ke sebelah timur bangunan kastil, ada tiruan kerangka dinosaurus yang di bagian bawah.

Puas berfoto di area depan, pengunjung biasanya langsung naik tangga menuju lantai dua dan tiga bangunan yang tak kalah apiknya.

Dari ketinggian, Anda bisa melihat proses pembangunan ‘The Lost World Castle’ yang baru dikerjakan sekitar 40 persen tersebut. Waktu yang tepat untuk mendatangi tempat ini adalah pada pagi atau sore hari. Pada jam-jam ini, cuaca di sekitar lokasi cukup sejuk dan teduh.

“Tiga kali masuk sini. Tempatnya keren mulai dari lantai bawah sampai paling atas. Cocok buat foto-foto,” kata Happy, salah satu pengunjung asal Godean.

 

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Travel

SPOT RIYADI: Pemandangan Eksotis di Puncak Bukit

Published

on

Spot Riyadi wisata jogja

Kilasjogja.com, TRAVEL – Spot Riyadi bisa jadi alternatif bagi Anda yang bingung memilih lokasi rekreasi di akhir pekan ini. Spot Riyadi berlokasi di desa Sambirejo, yang terletak di Kecamatan Prambanan, Sleman.

Tempat ini merupakan lokasi favorit para penghobi foto karena terletak di atas bukit dan memiliki pemandangan yang sangat indah.

Spot Riyadi terletak di pekarangan rumah miliki Riyadi atau yang biasa disebut ‘Spot Riyadi’.

Dari tempat ini, Anda bisa melihat hamparan sawah, Candi Prambanan, Candi Sojiwan hingga gunung Merapi yang cukup mempesona.

“Awalnya tempat ini pekarangan biasa dan kandang sapi. Setelah ada acara offroad tahun 2005 itu mulai banyak yang datang ke sini lihat pemandangan di depan rumah. Tahun 2010 baru saya bersihkan dan bikinkan tempat nongkrong,” terang Riyadi, sang pemilik lahan.

Riyadi mengakui bila pemandangan di depan rumahnya itu cukup mempesona.

Terlebih ketika matahari terbit atau tenggelam dan malam hari. Pengunjung yang datang ke tempatnya pun mayoritas adalah anak muda mulai berstatus pelajar hingga mahasiswa.

Para pengunjung di ‘Spot Riyadi’ tidak hanya berasal dari Yogyakarta.

Ada juga yang sengaja datang dari Solo, Magelang hingga Kulonprogo hanya demi melihat pemandangan Candi Prambanan dan Candi Sojiwan yang terlihat apik ketika malam hari.

“Sorotan lampu di Candi Prambanan itu terang sekali dan terlihat bagus dari sini waktu malam. Bagus untuk foto-foto,” jelasnya.

Di rumahnya, Riyadi juga menjual berbagai jenis makanan dan minuman yang bisa dinikmati oleh para pengunjung mulai pukul 06.00 hingga 24.00 WIB setiap hari.

Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau, mulai Rp 10.000 untuk makanan seperti mie ayam dan Rp 5.000 untuk segelas es teh atau jeruk.

Pengunjung juga bisa berfoto di jembatan cinta yang sengaja dibuat di tempat ini dan juga berkemah.

“Setiap hari ramai apalagi hari libur. Ada yang betah nongkrong di sini dari pagi sampai malam,” ungkapnya.

Bagi Anda yang tertarik berkunjung ke Spot Riyadi pada malam hari, tidak ada salahnya mempersiapkan jaket tebal karena udara di tempat ini cukup dingin.

Letak Spot Riyadi ini memang cukup sulit. Untuk mencapai Desa Sambirejo, arahkan kendaraan menuju Candi Prambanan.

Sesampainya lampu merah pasar Prambanan ambil jalan arah selatan atau menuju Jalan Raya Prambanan- Piyungan.

Setelah melewati rel kereta api ada jalan masuk ke kiri menuju arah Restoran Abhayagiri dan ikuti jalan tersebut.

Tidak perlu khawatir tersasar karena ada banyak petunjuk jalan yang akan mengarahkan ke tempat ini.

“Ke sini cocoknya sore apa malam. Atau habis salat subuh sekitar jam lima pagi itu. Pemandangannya baru bagus,” ujar Fani, mahasiswi UNY asal Surabaya yang mengaku sudah tiga kali berkunjung ke tempat ini bersama teman-teman kampusnya untuk foto-foto.

Continue Reading

Travel

Kolam Ikan Nila di Saluran Irigasi

Published

on

Kolam Ikan Nila

Kilasjogja.com, TRAVEL – Ingin melihat kolam ikan nila di saluran irigasi sepanjang 100 meter. Coba datang ke RT 04 dusun Singosaren, Wukirsari Imogiri Bantul. Anda akan melihat ribuan ikan nila berenang hilir mudik di saluran irigasi disepanjanh rumah warga.

Kini, warga harus berpikir beribu kali jika ingin membuang sampah saluran irigasi. Untuk mengantisipasi ikan nila hilang terbawa arus, warga memasang filter yang terbuat dari jaring dari kawat di sisi hilir.

Sedangkan pada bagian hulu dipasang semacam kincir air yang tengah diproses menjadi alat penggaruk sampah otomatis.

“Dulu pintu air irigasinya sering jadi timbunan sampah, apalagi setelah hujan deras. Sekarang tidak ada sampah lagi semenjak jadi kolam ikan,” terang Mutohar, pencetus ide saluran irigasi menjadi kolam ikan yang juga pembina Kelompok Pemuda Tansah Bejo.

Di beberapa pos kampling yang juga ditempel pamflet yang berisi pengumanan yang bertuliskan tidak diperkenankan menangkap ikan dengan menggunakan bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak dan/atau.

Juga menangkap ikan menggunakan alat dan/atau cara yang merugikan dan/atau membahayakan kelestarian sumber daya ikan dan/atau lingkungan.

Jika mereka nekat tetap membuang sampah, otomatis akan membuat ikan-ikan tersebut mati dan siap mendapat hukumannya.

Mulai hukuman pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak dua miliar rupiah. Sesuai Undang-undang Republik Indonesia No.31/2014Pasal 84 Ayat 1 Jo UU No 45/2009 Pasal 85 tentang perikanan.

Kelompok Pemuda Tansah Bedjo menyediakan pakan ikan untuk memfasilitasi warga dan pengunjung yang datang memberi makan ikan di kolam saluran irigasi.

Pakan ikan dijual dengan harga Rp 1.000. Uniknya tak ada penjaga yang menjual belikan, warga dan pengunjung bisa mengambil sendiri.

Ada juga tempat cuci tangan lengkap sabunnya dan tempat parkir khusus untuk kendaraan bermotor.

“Tempatnya bersih dan rimbun. Datang siang juga tidak panas,” kata Intan, pengunjung asal Dlingo, Bantul.

Tempat ini cukup nyaman dikunjungi pada pagi hari. Sebab udara di daerah ini cukup sejuk dan cocok untuk bersepeda bersama keluarga.

Continue Reading

Travel

Heboh, Kebun Bunga Matahari

Published

on

Kebun Bunga Matahari

Kilasjogja.com, TRAVEL – Dusun Tegalsari, Srigading, Kecamatan Sanden, Bantul mendadak jadi perbincangan karena munculnya kebun bunga matahari di kawasan lahan pasir Pantai Samas.

Munculnya ribuan bunga Matahari di kawasan lahan pasir Pantai Samas Desa Srigading Kecamatan Sanden Bantul menjadikan wilayah itu mendadak ramai dikunjungi orang.

Kondisi sudah pasti mendatangkan berkah bagi warga setempat dan yang pasti pemilik lahan.

Tanaman bunga tersebut pada awalnya sekadar melindungi komoditas cabai dari kencangnya angin Pantai Samas. Namun kini bunga warna kuning itu justru menjadi daya tarik bagi ratusan warga untuk berswafoto.

Etik Purwanti, pengolah lahan menjelaskan awal mula munculnya bunga Matahari yang kini jadi primadona itu.

Ketika ditanam empat bulan lalu, tujuan utamanya bukan untuuk dibudidayakan atau tempat berswafoto.

Etik Purwanti menjelaskan bunga Matahari mulai ditanam sejak bulan Juni. Dia menanam bunga bernama Latin Helianthus Annuus L bersama anak pertamanya yang bernama Retama Dimas. Awalnya bunga matahari ini difungsikan untuk penahan angin.

Etik dan Retama Dimas pun mulai menanam bibit bunga matahari di sekeliling lahan tanaman cabai berukuran 1.000 meter persegi. Sang ayah, Rujiyanto yang bertugas menyemprotkan pupuk ke bunga matahari dan cabai-cabai yang ditanam. Ketika bunga matahari mulai tumbuh dan membesar, tanaman cabai di lahan miliki Etik jarang ada yang berguguran.

“Angin di Pantai Samas ini kencang, jadi untuk melindungi cabai pakai bunga matahari. Kebetulan saya juga suka,” terangnya.

Selain bunga Matahari, di pematang lahan pasir itu juga ditanami jenis tanaman Kenikir. Etik pun sama sekali tidak menyangka jika apa yang dilakukan empat bulan lalu kini memberikan berkah bagi warga setempat. Kini ia setiap hari harus berjaga untuk melayani ratusan pengunjung.

Dirinya merasa khawatir jika tidak diawasi, pengunjung akan merusak tanaman cabainya. Meski melakukan pengawasan, namun Etik hanya memberikan imbauan kepada pengunjung agar hati-hati dan menginjak tanaman cabainya.

Bahkan kini untuk masuk ke lahan pasir dengan ribuan bunga Matahari itu, setiap pengunjung dikenai tarif sebesar Rp 5.000 perorang.

Meski begitu tidak lantas tarif itu berlaku untuk semua. Ketika ada pelajar atau masyarakat sekitar, tidak dikenakan tarif, namun dibairkan masuk secara cuma-cuma.

Dijelaskan, untuk hari biasa, dalam sehari Etik mampu meraup uang sekitar Rp 300.000 hingga Rp 500.000. Sebaliknya, jika hari libur, uang yang terkumpul lebih Rp 1 juta.

“Tempatnya bagus banget buat selfie,” kata Haryani, salah satu pengunjung.

 

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
loading...

Headline Berita