Connect with us

News

Lafran Pane Pahlawan Nasional

Published

on

Lafran

Kilasjogja.com, NASIONAL – Presiden Joko Widodo mengunegerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Lafran Pane, tokoh asal Yogyakarta dan pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Upacara penganugerahan dilakukan di Istana Negara dan diterima ahli waris.

Selain itu, gelar Pahlawan Nasional juga diberikan kepada tiga tokoh lainnya, yaitu TGKH M Zainuddin Abdul Madjid asal Nusa Tenggara Barat, Laksamana Malahayati (Keumalahayati) asal Nanggroe Aceh Darussalam, dan Sultan Mahmud Riayat Syah tokoh asal Kepulauan Riau.

Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial, Hartono Laras mengatakan, ada syarat umum dan syarat khusus yang harus dipenuhi sebelum akhirnya seorang tokoh diputuskan memperoleh gelar Pahlawan Nasional.

Sedang keempat tokoh yang memperoleh anugerah tahun ini telah memenuhi seluruh persyaratan.
Mengenai riwayat keempat tokoh dijelaskan, Lafran Pane lahir di Sipirok 12 April 1923 dan wafat di Yogyakarta 24 Januari 1991.

Dia dikenal sebagai tokoh pergerakan pemuda dan memprakarsasi pembentukan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada 5 Februari 1947.

Dalam perjalanannya, HMI secara konsisten menolak gagasan Negara Islam yang digagas oleh Maridjan Kartosoewiryo, pendiri gerakan Darul Islam.

Lafran Pane menjadi salah satu tokoh utama penentang pergantian ideologi negara dari Pancasila menjadi komunisme.

TGKH M Zainuddin Abdul Madjid lahir di Nusa Tenggara Barat 19 April 1908 dan wafat 21 Oktober 1997.

Dia seorang nasionalis pejuang kemerdekaan, dai, ulama, dan tokoh pendidikan emansipatoris. Juga pendiri Nahdatul Wathan, organisasi Islam terbesar di Lombok yang memberi perhatian kepada pendidikan dan agama.

Laksamana Malahayati yang merupakan tokoh pejuang asal Nanggroe Aceh Darussalam lahir tahun 1550 dan wafat pada 1615.

Malahayati adalah laksamana perempuan pertama dari Aceh. Ia membentuk pasukan “Inong Balee” beranggotakan para janda prajurit Aceh yang mahir menembakkan meriam dan menunggang kuda.

Tahun 1559 Malahayati memimpin armada laut berperang melawan Belanda dan berhasil menewaskan Cornelis De Houtman.

Di Tahun 1606, bersama Darmawangsa Tun Pangkat (Sultan Iskandar Muda) berhasil mengalahkan armada laut Portugis.

Sebelumnya Malahayati telah diabadikan sebagai nama kapal perang jenis perusak kawal berpeluru kendali kelas Fatahillah milik TNI AL dengan nomor lambung 362.

Sedang Sultan Mahmud Riayat Syah lahir di Sulu Sungai Riau Agustus 1760 dan wafat 12 Januari 1812. Pada rentang tahun 1782 hingga 1784, Sultan berhasil mengalahkan Belanda yang ingin menanamkan pengaruhnya di Riau dalam Perang Riau I. Kapal Komando Belanda Malaka’s Walvaren berhasil diledakkan.

Tahun 1784, Sultan kembali memimpin perang melawan Belanda yang dipimpin Pieter Jacob van Braam di Tanjung Pinang.

Sultan Mahmud menolak ajakan Belanda untuk berdamai dan menerapkan strategi gerilya laut untuk mengacaukan perdagangan Belanda di Selat Melaka dan Kepulauan Riau.

Tahun 1811 Sultan Mahmud mengirimkan bantuan kapal perang lengkap guna melawan ekspansi Belanda ke Sumatera Timur, Sumatera Selatan, dan Bangka Belitung.

Penganugerahan ini diputuskan melalui Kepres RI No 115/TK/tahun 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan.

Keputusan ini diambil setelah sebelumnya Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan bersidang pada Oktober lalu.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, mengatakan dengan penganugerahan keempat Pahlawan Nasional baru tersebut, maka jumlah Pahlawan Nasional Indonesia saat ini sebanyak 173 orang.

“Mereka yang menyandang gelar Pahlawan Nasional tidak hanya yang berjasa di medan perang, tapi juga di bidang lain yang gaung dan manfaatnya dirasakan secara nasional,” terangnya.

Terdiri 160 laki-laki dan 13 perempuan. Para pahlawan tersebut berasal dari sipil dan juga TNI/Polri.
Khofifah menjelaskan, Pahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan pemerintah kepada seorang Warga Negara Indonesia yang semasa hidupnya melakukan tindak kepahlawanan dan berjasa luar biasa bagi kepentingan bangsa dan negara yang semasa hidupnya tanpa cela.

“Permohonan usul pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada presiden melalui Dewan Gelar. Sebelumnya diadakan verfikasi, penelitian dan pengkajian melalui proses seminar, diskusi, serta sarasehan,” katanya.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.