Connect with us

Sleman

Kasus Kericuhan Di Seturan Yang Melibatkan Kelompok Dari Suku Papua

Published

on

Kasus Kericuhan Di Seturan Yang Melibatkan Kelompok Dari Suku Papua

Kilasjogja.com, SLEMAN – Kepolisian DIY mengklaim ada perkembangan baik dalam pengusutan kasus penusukan di Seturan, Depok, Sleman beberapa waktu lalu.

Buntut penusukan itu, sekelompok warga asal Papua terjun ke jalan membawa senjata tajam mencari pelaku yang menusuk rekan mereka tersebut.

Kabid Humas Polda DIY, AKBP Yuliyanto mengatakan pengusutan kasus pertikaian yang menyebabkan seorang mengalami luka tusuk itu kini masih berjalan.

Sejumlah saksi telah diperiksa. “Hari ini progresnya sudah bagus, sudah ada tanda-tanda [pelaku] bakal diamankan,” ujarnya.

Namun Yulianto tidak membeberkan secara detail identitas pelaku tersebut.

Sebelumnya, sejumlah organisasi masyarakat (Ormas) yang tergabung dalam Forum Komunikasi Ormas dan Relawan (FKOR) DIY mendatangi Polda DIY, Jumat (14/9/2019) sore. Mereka mendorong Polda DIY agar mengusut tuntas kasus keributan antar dua kelompok di Seturan beberapa waktu lalu.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) FKOR DIY, Waljito mengatakan pihaknya menolak keras segala bentuk kekerasan yang ada DIY. Adanya pertikaian yang menjurus tindak kekerasan antar kelompok yang terjadi di Seturan, Caturtunggal, Depok, Sleman pada Rabu (13/9/2019) kemarin membuat pihaknya prihatin.

Menurutnya DIY adalah kota yang bhineka, banyak sekali suku yang ada di DIY. Dan pihaknya sepakat bahwa DIY adalah daerah yang aman dan nyaman, sehingga segala bentuk kekerasan harus dilawan.

Sebelumnya pertikaian terjadi antara dua kelompok orang di sebuah kafe di daerah Seturan, Caturtunggal, Depok. Seorang dari kelompok orang asal Papua mengalami luka tusuk akibat pertikaian itu. Keesokan harinya ketegangan terjadi setelah sekelompok warga Papua turun ke jalan dengan membawa senjata tajam.

Baca Juga:

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News

JS Lama Bergabung Dengan Jaringan Radikal

Published

on

Densus 88

Kilasjogja.com, SLEMAN – Tim Densus Antiteror Mabes Polri mengamankan seorang pria di Jalan Yogya-Solo Keniten Tamanmartani Kalasan Sleman. Laki-laki berinisial JS (40) itu, saat diamankan, Rabu (18/7) sedang melayani pembeli di warung minuman dawet milik adiknya.

Pihak keluarga sendiri merasa tak terkejut dengan penangkapan tersebut, karena pihak keluarga sejak lama menduga JS bergabung dengan jaringan radikal.

Hal ini disampaikan adik kandungnya, NH (38) saat ditemui di rumahnya di Dusun Keniten. NH juga turut dibawa ke Polda DIY dan baru diperbolehkan pulang pukul 20.00.

“Kalau kami tidak kaget. Kakak saya sudah lama ikut jaringan itu. Kaidah agamanya sudah berbeda dengan kami,” jelasnya.

Menurut NH saat penangkapan, anggota Densus 88 datang menggunakan sepeda motor. JS langsung diborgol dan matanya ditutup menggunakan lakban. NH akhirnya ikut dibawa karena mengaku kakaknya. Keduanya dimasukkan ke mobil Avanza dan dibawa ke Polda DIY.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengharapkan peningkatan pengawasan menyusul operasi yang dilancarkan Densus 88 di Yogya. Sinergitas dari semua pihak sangat dibutuhkan. Misalnya dengan melibatkan pengurus RT, RW maupun lurah untuk mengawasi penghuni baru.

“Keberadaan RT/RW memiliki peran penting dan strategis mengawasi penghuni baru. Selain harus memenuhi persyaratan sebagai penduduk baru atau pendatang, mereka harus melakukan komunikasi dengan RT dan warga sekitar,” ungkap Gubernur saat dimintai tanggapannya soal penangkapan terduga teroris di wilayah DIY.

Sultan mengaku belum bisa banyak memberikan komentar. Hal itu, dikarenakan dirinya, belum mengetahui secara persis apakah terduga teroris yang tertangkap merupakan warga pendatang yang tinggal di Yogyakarta atau justru warga asli DIY.

“Tapi apapun itu, komunikasi harus dibangun dengan mereka dan perlu pengawasan lebih lanjut,” tegas Sultan HB X.

Sultan mengungkapkan, pembinaan wilayah dan teritorial itu adalah hal yang sangat penting. Menyadari hal itu, Sultan mengaku telah berkomunikasi dengan Kapolda DIY dan Wakapolri.

Baca Juga:

Continue Reading

News

Haduh, Ada 6.000 Balita Alami Stunting

Published

on

Balita

Kilasjogja.com, SLEMAN – Permasalahan terkait balita stunting (bayi pendek) di Kabupaten Sleman mencapai 11,9 persen.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Bagian (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan Sleman, dr Bambang Suharjana pada Sosialisasi Penanggulangan Stunting Secara Dini di Pendapa Rumah Dinas Bupati Sleman.

Meski masih ada permasalahan terkait balita stunting, namun menurut Bambang, permasalahan gizi di Kabupaten Sleman pada tahun 2017 mengalami penurunan.

“Pada tahun sebelumya, 2015-2016, rata-rata berkisar 12% kasus stunting ini. Artinya ini sudah ada penurunan lagi dengan perkiraan sekitar 6.000 balita mengalami stunting,” terang Bambang.

Sementara Nutrisionis Dinkes Sleman Sri Mujianto memaparkan, balita penderita stunting terdapat di lima kecamatan di Sleman yaitu, Minggir, Sayegan, Moyudan, Prambanan dan Kalasan. “Saat ini kita baru mulai analisis mengapa terjadi di 5 kecamatan tersebut,” ungkapnya

Menurut Mujianto, beberapa faktor dapat menjadi penyebab terjadinya permasalahan gizi di suatu daerah. Seperti kemiskinan yang sangat erat kaitannya dengan permasalahan tersebut.

“Sebenarnya banyak sekali faktornya, bisa kemiskinan, pola asuh, pendidikan, dan kita belum tahu faktor mana yang paling berpengaruh,” jelas Mujianto.

Sedangkan Wakil Bupati Sri Muslimatun menjelaskan, permasalahan stunting ini tidak bisa diselesaikan oleh pihak tertentu saja, namun membutuhkan dukungan lintas program dan lintas sektoral.

“Oleh karena itu seluruh pihak terkait untuk dapat bersama-sama menekan kasus stunting serta permasalahan gizi lainnya di Kabupaten Sleman dengan cara berperan aktif dalam menyelesaikan permasalahan sosial masyarakat sesuai dengan bidang kerjanya masing-masing,” ujarnya

Sementara itu, Hasil riset kesehatan dasar nasional tentang bayi stunting atau bayi pendek masih menunjukkan angka yang tinggi, sekitar 37,2 persen.

Balita stunting membuat menurunnya produktivitas kemampuan bersaing sehingga menurunkan pendapatan. Ini terbukti dari studi menunjukkan bahwa stunting menurunkan penghasilan saat dewasa sebesar 20 persen. Kurang gizi menyebabkan lemahnya sistem imunitas sehingga rentan terhadap infeksi.

1.000 hari pertama kehidupan menjadi intervensi terbaik untuk masa depan bangsa dengan gizi ibu berkualitas, air susu ibu (ASI) eksklusif, dan ASI serta Makanan Pendamping ASI berkualitas (MPASI).

Sehingga, asupan makanan yang bergizi tidak menambah tinggi badan melainkan tumbuh ke samping. Fungsi organ lainnya yang terganggu juga membuat anak stunting bisa menderita penyakit diabetes.

Baca Juga:

Continue Reading

News

Air Mancur Menari di Prambanan Light Festival

Published

on

Air Mancur

Kilasjogja.com, SLEMAN – Tidak perlu jauh-jauh pergi hingga luar negeri bila hanya ingin melihat air mancur menari (danciong foutain).

Cukup datang ke Prambanan Light Festival di Taman Wisata Candi Prambanan.  Di tempat ini, Anda akan melihat air mancur menari dengan iringan musik dan permainan warna, menjadi tontonan utama.

Pertunjukan berlangsung 17 November – 10 Desember 2017, pukul 17.00-22.00.  Show perdana air mancur menari, Jumat (17/11) pukul 19.30, sesi kedua pukul 20.30 dan sesi ketiga pukul 22.30.

Meskipun hujan mengguyur, pertunjukkan tetap berlangsung. Penonton bisa menyaksikan dari tenda sambil menikmati sajian aneka kuliner, baik yang tradisional maupun kekinian.

Air mancur yang menari juga bisa berfungsi sebagai layar seperti layar film. Kemudian proyektor menyorot dengan gambar. Menonton film dengan layar dari air.

Prambanan Light Festivala bernuansa lampion ada yang berbentuk aneka bunga seperti tulip, mawar, gandum dan lain-lain, juga berupa ikan bisa digunakan untuk swafoto. Ada pula garden light, dan padang light. Semua menyala.

Humas Taman Pelangi Sigit Iwan, mengatakan Prambanan Light Festival merupakan bagian dari Event Festival of Light yang akan digelar akhir tahun 2017.

Festival lampion di Taman Candi Prambanan itu merupakan kerjasama Manajemen Taman Pelangi dengan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko.

Pada hari biasa buka 17.00-22.00 sedang pada akhir pekan sampai pukul 23.00.

Air mancur menari yang dioperatori oleh Stefanus AKW membutuhkan tenaga listrik 40-80 KW. Airt mancur bisa menari, laser show, dan semburan api setinggi 25 meter.

Sigit menambahkan, PT Taman Pelangi sudah keliling Jawa untuk mempertontonkan air mancur menari yang bertaraf internasional itu.

Menurutnya, di mana saja event itu digelar, mendapat sambutan yang bagus dari masyarakat. Sigit berharap tontonan yang juga dilengkapi dengan wahana permainan anak bisa memeriahkan dan menggembirakan pengunjung anak-anak.

Diharapkan pula bisa memberi kesan mendalam bagiowisatawan yang berkunjung di Yogyakarta.

Baca Juga:

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
loading...

Tag

Headline Berita