Connect with us

Travel

Kaget, Bunyi Ledakan Bumi di Bleduk Kuwu

Published

on

Bleduk Kuwu

Kilasjogja.com – Bingung mencari tempat rekreasi yang cocok untuk keluarga? Berkunjung ke Bleduk Kuwu mungkin bisa menjadi alternatif tempatnya. Tempat wisata yang terletak di Desa Kuwu, Kec Kradenan, Purwodadi, Jawa Tengah ini memang memiliki keunikan tersendiri, dibanding tempat-tempat rekreasi pada umumnya.

Bledug kuwu adalah sebuah fenomena gunung api lumpur yang mengeluarkan letupan lumpur secara terus menerus hampir setiap menit, bunyi letuapan tersebut seperti bunyi meriam yang berasal dari dalam bumi, dan hasil letupan lumpur tersebut mengandung garam yang banyak ditambak oleh warga sekitarnya.

Anda bisa menempuh jalan darat, dari Yogya-Solo-Purwodadi kemudian mengambil arah menuju Wirosari Blora sampai jika ingin berkunjung ke Bleduk Kuwu. Di sekitar lokasi juga terdapat berbagai fasilitas, seperti rumah makan, rumah penginapan, dan tentu saja warung yang menjual garam buatan penduduk Desa Kuwu yang sudah terkenal rasanya yang asin namun gurih.

Cukup mengeluarkan uang Rp 2000, Anda sudah bisa menikmati keindahan wisata alam Bledug Kuwu yang memiliki luas wilayah sekitar 45 hektar ini.  “Dari total 45 hektar, setengahnya merupakan tempat-tempat sebaran letupan, karena letupan-letupan kecil tempatnya berpindah-pindah. Makanya pengujung harus berhati-hati saat menginjakkan kaki di sini (Bleduk Kuwu, red). Karena kalau salah langkah bisa terperosok ke bekas lubang letupan,” terang Sugito, guide di Bleduk Kuwu.

Pria asli Desa Kuwu ini menjelaskan, nama Bledug Kuwu ini berarti ledakan yang berhamburan, jika diambil dari bahasa Jawa, yaitu bledug yang berati ledakan, dan kuwu yang berarti berhamburan.
“Tempat ini (Bleduk Kuwu,red) sudah ada sejak jaman Kerajaan Mataram Kuno.,” jelasnya,

Masyarakat di Desa Kuwi percaya jika lubang yang ada di Bleduk Kuwu ini merupakan jalan pulang Joko Linglung menuju kerajaan Medang Kamulan setelah mengalahkan Prabu Dewata Cengkar yang berubah menjadi buaya putih di Laut Selatan.

“Joko Linglung konon bisa membuat lubang tersebut karena dia bisa menjelma menjadi ular naga yang merupakan syarat agar dia diakui sebagai anaknya,” ungkapnya.

Sugito menambahkan, Bledug Kuwu mempunyai keistimewaan karena tanah memiliki jenis tanah Alvuial Plains atau tanah endapan, sehingga terasa empuk saat menginjakknya dan juga hadirnya rumput yang biasa tumbuh di pinggir laut, membuat tempat ini dipercaya merupakan terusan dari Laut Selatan.

“Lumpur di Bleduk Kuwu ini tidak panas, dan susah dihilangkan. Makanya harus hati-hati kalau melangkah ke daerah letupan. Bekas lumpur ini tak bisa hilang meski di cuci dengan air. Hilangnya harus memakai rumput,” ujarnya.

Jika hari biasa, tempat ini memang bisa dikatakan sepi pengujung. Pengujung bisanya datang ke Bleduk Kuwu saat akhir pekan atau hari libur nasional. “Kalau hari biasa, pengujungnya paling sampai 100 orang. Hari libur bisa dua kali lipatnya dan rata-rata pengujung mencari garamnya,” kata Tri Parsito (48), petugas loket Bleduk Kuwu.

Saat berkunjung ke Bleduk Kuwu, Anda sebaiknya membawa payung karena lokasinya merupakan wilayah yang gersang dan tidak ditumbuhi pepohonoan satu pun. Sehingga terik matahari akan sangat terasa membakar tubuh jika berkujung pada siang hari dan tidak menggunakan payung.
“Sebenarnya tempatnya enak buar rekreasi keluarga cuma panasnya itu. harus bawa payung. Harga makanan dan oleh-oleh mura,” kata Nur Laely (35), pengujung asal Kudus.

Map:

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.