Connect with us

Jogja

Hore, Yogyakarta Raih Adipura 2017

Published

on

YOGYAKARTA – Kerja sama warga Kota Yogyakarta dan pemerintah sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan akhirnya menghasilkan Adipura untuk katagori kota besar dari Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia tahun 2017. Salah satu upaya yang dilakukan masyarakat untuk mendukung penilaian Adipura di antaranya dengan pengelolaan sampah secara mandiri melalui bank sampah.

“Untuk bisa meraih Adipura pada tahun ini tidaklah mudah. Semua pihak harus bekerja keras agar Yogyakarta kembali meraihnya,” terang Suyana, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta.

Suyana mengatakan saat ini dari 616 rukun warga (RW) yang ada di Kota Yogyakarta. Sudah ada 405 RW yang memiliki bank sampah. Hanya saja partisipasi masyarakat di bank sampah masih cukup rendah.
Setiap hari, rata-rata volume sampah yang dihasilkan Kota Yogyakarta mencapai 195 ton. Sebanyak 175 ton dibuang ke TPA Piyungan dan sisanya dikelola masyarakat. Sedangkan untuk pengelolaan TPA Piyungan, sudah dilakukan dengan sistem sanitary landfill.

“Sampah tidak dibiarkan bertumpuk tetapi harus ditimbun tanah sehingga tidak menimbulkan dampak yang lebih buruk,” jelasnya.

Wali Kota Jogja, Haryadi Suyuti mempersembahkan penghargaan Adipura untuk warganya. Meski demikian, dia mengingatkan agar warga Kota Yogyakarta tidak hanya puas dengan pretasi yang diukir. Apalagi Kota Yogyakarta terakhir meraih Adipura tahun 2013.

Warga harus merebut penghargaan Adipura Kencana yang merupakan penghargaan tertinggi dalam bidang lingkungan hidup. Tahun ini, hanya ada dua kota besar se-Indonesia yang meraih Adipura Kencana. Karena itu butuh kesadaran semua masyarakat menjaga kebersihan, karena dengan lingkungan bersih orang akan segan buang sampah.

Terlebih Kota Yogyakarta merupakan kota tujuan wisata dari berbagai daerah. Karena itu menjaga kebersihan lingkungan mutlak dilakukan oleh semua warga. Bukan hanya tugas pemerintah yang dalam hal ini adalah Dinas Lingkungan Hidup.

“Mari kita sama-sama membuat Kota Yogyakarta nyaman dan bersih,” ungkap Haryadi Suyuti yang didampingi Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi.

Selain mendapat Piala Adipura, salah satu sekolah di Kota Yogyakarta yaitu sekolah dasar (SD) Giwangan terpilih sebagai salah satu sekolah Adiwiyata Mandiri. Penghargaan tersebut merupakan penghargaan tertinggi dari Kementrian Lingkungan Hidup bagi sekolah berbasis lingkungan.

Total ada 113 sokolah yang mendapat penghargaan Adiwiyata Mandiri. 24 sekolah di antaranya termasuk SD Giwangan mendapat undangan langsung untuk menerima penghargaan tersebut dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo dan Menteri Lingkungan Hidup di Jakarta.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Jogja

Kementerian Pekerjaan Umum SPAM Kartamantul Selesai 2018

Published

on

Kementerian Pekerjaan Umum

Kilasjogja.com, YOGYAKARTA – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya menargetkan, Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Kartamantul (Yogyakarta, Sleman dan Bantul) akan selesai pada 2018.

Sistem tersebut akan melayani kebutuhan air bersih bagi 150 ribu jiwa yang tinggal di Yogyakarta dan sekitarnya. Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono mengatakan, pembangunan SPAM Regional terpadu seperti ini efektif untuk menyediakan sumber air baku yang dapat dimanfaatkan oleh beberapa kota dan kabupaten.

“Ini merupakan salah satu upaya kami mempercepat pencapaian target akses air minum aman nasional 100 persen pada 2019 yaitu 100-0-100 yang artinya 100% akses air minum untuk masyarakat 0% kawasan kumuh dan 100% akses sanitasi di seluruh indonesia ,” ujar dia dalam keterangan tertulis, seperti dikutip Kamis (5/4/2018).

Dia menjelaskan, sistem terpadu tersebut dapat mengatasi keterbatasan air baku yang tidak merata di berbagai daerah, sekaligus menghemat anggaran dalam pembangunan instalasi pengolahan air minum (IPA) dan jaringan distribusinya. Adapun sumber air baku SPAM Kartamantul berasal dari Sungai Progo.

SPAM Kartamantul direncanakan memiliki kapasitas 700 liter per detik dengan cakupan mencapai layanan sebanyak lima kecamatan di Kabupaten Sleman, Empat Belas kecamatan di Kota Yogyakarta, dan tiga kecamatan di Kabupaten Bantul.

Pembangunannya dilakukan dua tahap dengan berbekal dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yakni APBN 2014-2015 sebesar Rp 88,7, dan APBN 2017-2018 sebanyak Rp 90,5 miliar.

Selain SPAM Kartamantul, Kementerian PUPR juga tengah membangun 8 SPAM Regional lainnya yang menjadi proyek strategis nasional (PSN), yakni di dua Jawa Tengah dan Jawa Barat, serta masing-masing satu di Jawa Timur, Sumatera Utara, Lampung, dan Sulawesi Selatan.

Secara nasional, Kementerian PUPR melaporkan, pelayanan air minum di Indonesia hingga akhir 2016 adalah sebesar 71,14 persen, meningkat dibanding 2014 yang sebesar 68 persen.

Adapun rincian ketersediaan air minum pada 2016 itu, SPAM sudah tersalurkan sebesar 81,30 persen di wilayah perkotaan, serta 60,72 persen di pedesaan.

Continue Reading

Jogja

Bank BRI Jogja Ganti Kartu ATM Nasabah

Published

on

Bank BRI Jogja

Kilasjogja.com, JOGJA – Bank BRI Jogja mulai mengganti kartu ATM nasabah hal ini berkaitan kasus skimming yang dilakukan beberapa hacker pekan lalu.

Sebelumnya, pada Sabtu 24 Maret 2018, nasabah BRI dihebohkan dengan sebuah pesan dari BRI yang menyatakan kartu ATM telah dinonaktifkan.

“Yth, Nasabah BRI, demi keamanan transaksi, kartu ATM Anda akan dinonaktifkan. Segera ganti kartu Anda di Kantor Cabang BRI terdekat (Gratis),” bunyi pesan dari BRI.

Corporate Secretary Bank BRI Pusat Bambang Tri Baroto mengatakan penonaktifan kartu ATM tersebut sebagai upaya untuk mencegah skimming.

Sementara itu, Kepala Kanwil BRI DIY, Hari Siaga Amijarso mengatakan layanan penggantian kartu ATM sudah dimulai Sabtu dan Minggu kemarin.

“Layanan dibuka sampai pukul 16.00 WIB,” katanya lewat sambungan telepon.

Kendati demikian, Hari belum mengetahui jumlah nasabah BRI yang terindikasi skimming.

Continue Reading

Jogja

Pesanan Kue Keranjang Meningkat

Published

on

kue keranjang

Kilasjogja.com, JOGJA- Jelang perayaan Imlek ada 16 Februari 2018, pesanan kue keranjang sudah mulai meningkat. Sulistyowati pembuat kue keranjang di Jalan Tukangan 43 Yogyakarta mulai banyak pesanan. Paling banyak pesanan dari lokal DIY kemudian dari berbagai daerah. Di beberapa kota di luar DIY sudah ada yang biasa memesan untuk dijual kembali.

“Saya setiap harinya memasak lima dandang, setiap dandang berisi 100 biji kue keranjang dengan bahan baku ketan tiga kilogram,” terangnya.

Suliostyowati mengatakan imlek tahun lalu bisa menghabiskan dua ton beras ketan. Untuk tahun ini belum tahu tapi berharap pesanan dan produksi bisa meningkat. “Kue keranjang untuk hantaran pada kerabat,” jelasnya.

Sulistyowati mempekerjakan enam orang karyawan. Kue kerajangnya menggunakan merk Lampion, keunggulannya karena memasaknya menggunakan hitungan waktu maka kue buatannya tahan lama. Dia meneruskan usaha orangtuanya, tetapi belum tahu apakah nantinya akan ada yang meneruskan, karena anak-anaknya tidak ada yang tertarik menggeluti usaha kue keranjang.

Hari itu beberapa karyawannya nampak sibuk mengepaki kue keranjang yang sudah janji. Hanya saat menjelang Imlek saja ada kesibukan membuat kue keranjang. Di luar itu tidak ada orang memesang kue yang berwarna merah dan manis rasanya itu.

Sulistyowati tidak melulu membuat kue kerajang. Tiap harinya membuat kue bakcang dan kue mangkok. Atau sebetulnya usaha utamanya adalah membuat kedua kue tersebut. Kue keranjang hanyalah sampingan di saat menjelang perayaan Imlek. “kerja musiman itu hasilnya cukup menyenangkan,” ujarnya.

Kue keranjang adalah kue khas yang selalu disajkan pada saat perayaan imlek. Kue keranjang (ada juga yang menyebutnya dengan kue ranjang) dalam bahasa mandarin disebut juga dengan Nian Gao atau dalam dialek Hokkian disebut dengan Ti Kwe, yang diperoleh dari wadah cetakan kue yang berbentuk Keranjang. Kue ini terbuat dari tepung ketan dan gula yang menjadikan kue keranjang ini memiliki tekstur yang kenyal dan lengket.

Kue keranjang mulai digunakan sebagai sesaji dalam upacara persembahan kepada leluhur saat tujuh hari menjelang tahun baru imlek, dan pada malam menjelang tahun baru imlek, kue ini biasanya juga tidak dimakan makan hingga hari Cap Go meh atau malam ke-15 setelah tahun baru imlek.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
loading...

Headline Berita