Connect with us

News

GUNUNG AGUNG MELETUS? Jangan Percaya Hoax!

Published

on

Gunung Agung

Kilasjogja.com, NASIONAL – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat tak menyebarkan berita palsu (hoax) yang menyebut Gunung Agung meletus.

Berita palsu tersebut dapat menyebabkan masyarakat panik.
“Masyarakat diimbau jangan mudah percaya dan menyebarkan berita yang menyesatkan, karena letusan gunung tidak bisa diprediksi secara pasti,” terang Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusdatin dan Humas BNPB.

Menurut Sutopo, ada kecenderungan masyarakat membagi konten yang tidak dapat dipertanggungjawabkan terkait Gunung Agung.

Misalnya, pesan berantai di media sosial yang mengatakan Gunung Agung telah meletus atau video letusan Gunung Agung. Padahal konten audio visual itu tidak sesuai fakta.

Sutopo menegaskan, letusan gunung termasuk Gunung Agung tidak dapat diprediksi secara pasti. Hanya saja gunung akan memberi pertanda jika akan meletus, salah satunya sering terjadi gempa.

Seismograf yang terhubung ke peralatan pemantauan Gunung Agung masih mencatat cukup banyak getaran.

Getaran tersebut disebabkan magma yang terdorong ke permukaan. Kebanyakan getaran lebih dangkal dibanding hari-hari sebelumnya.

Terkait pengungsi, Sutopo mengatakan sebagian besar adalah penduduk yang tinggal di radius 6-12 kilometer dari kawah.

Sedangkan titik posko pengungsian tersebar di sembilan kabupaten di Bali.

Sutopo mengapresiasi adanya modal sosial di tengah masyarakat. Banyak warga yang merelakan rumahnya menjadi tempat pengungsian.

Pemprov Bali telah mengumumkan keadaan bencana alam, artinya seluruh kabupaten/kota di Bali harus mendirikan tempat penampungan bagi pengungsi.

Sementara itu, Gunung Agung dianggap sakral oleh seluruh umat Hindu di Bali.

Di sisi barat daya Gunung Agung terdapat Pura Agung Besakih, salah satu tempat beribadat yang juga paling sakral.

Tak jauh dari pura terdapat Tirta Giri Kusuma dan Pura Pengubengan. Tempat dimana umat hindu mengambil air suci untuk menyempurnakan upacara persembahan.


Humas Pura Pasar Agung, I Wayan Suara Arsana selaku Humas Pura Pasar mengatakan setiap pemedek atau pendaki yang hendak naik ke atas Gunung Agung harus mengikuti aturan berlaku, dan menjauhi segala pantangan yang dilarang.

Pantangan yang harus dijauhi yakni, tidak boleh mengucapkan kata – kata kotor selama pendakian.

Membuang sampah sembarangan diatas Gunung Agung juga dilarang.

Untuk pemedek yang hendak bersembahyang dilarang memakai emas. Aturan ini berlaku dari dulu, serta sering disosialisasikan.

“Puncak Gunung Agung dikeramatkan, secara niskala pasti ada penunggunya. Kita berharap pemedek dan pendaki mengikuti aturan yang sudah tersirat. Aturan serta pantangan sudah dipasang diplang,” ujarnya.

 

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.