Connect with us

olahraga

Ebos Arsiteki Bima Perkasa Yogyakarta

Published

on

Ebos Arsiteki Bima Perkasa Yogyakarta

Kilasjogja.com – Klub bola basket asal Yogyakarta, Bima Perkasa Jogja resmi menunjuk Raoul Miguel Hadinoto atau yang akrab disapa Eboss sebagai pelatih mulai musim 2017-2018 mendatang. Pelatih yang sebelumnya menukangi JNE Siliwangi ini diikat selama tiga tahun. Dia menggantikan Andika Bastian Kosasih yang tidak diperpanjang kontraknya oleh manajemen.

Alasan pemilik Bima Perkasa Yogya, Dr Edi Wibowo memilih Ebos karena dianggap memiliki cukup banyak pengalaman di kompetisi basket nasional, seperti Citra Satria Jakarta (2004), Kalila Jakarta (2008), Garuda Flexi Bandung (2010), dan yang terbaru JNE Siliwangi (2017) serta menjabat sebagai Kepala Pelatih untuk Tim Nasional Putri Indonesia pada tahun 2013.

“Kontrak tiga tahun ini merupakan bukti kepercayaan kami terhadap pelatih agar bisa menyusun program dengan baik selama menunaikan tugasnya dalam memperbaiki performa permainan tim,” terangnya.

Dalam menjalani perannya sebagai Kepala Pelatih di Bima Perkasa Yogyakarta, Eboss akan dibantu oleh Moosa Permadi sebagai asisten pelatih,dan Rero selaku pelatih fisik. Mereka bertiga akan mengeksekusi program jangka pendek guna mempersiapkan kompetisi Indonesia Baket League (IBL) kemudian mematangkan program jangka panjang selama tiga tahun ke depan.

“Target saya pemain memberikan penampilan terbaik dan lolos play off dulu,” jelas Ebos.

Saat ini Bima Perkasa Yogyakarta sudah memasuki tahap pembentukan tim dan telah memastikan ikatan kerjasama selama semusim ke depan dengan perusahaan aparel olahraga asal Jakarta, Motion Sport Indonesia.

Bersama Motion, Bima Perkasa Yogyakarta merencanakan untuk lebih aktif dalam melakukan pemasaran cendera mata kepada penggemar dibanding musim sebelumnya. Usaha lain yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada penggemar bola basket di Indonesia adalah meluncurkan laman website resmi milik klub kebanggaan kota gudeg.

Di tengah era digital yang semakin berkembang, laman web ini nantinya akan dikembangkan sedemikian rupa hingga mengakomodir layanan toko online untuk penjualan segala macam bentuk cinderamata untuk para penggemar. Liga Basket Profesional Indonesia (IBL) diproyeksikan dilaksanakan pada Desember 2017 mendatang secara bergiliran di delapan kota berbeda di Indonesia.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Tinggalkan Balasan

olahraga

Hana Kimura Pegulat Cantik Jepang Keturunan Indonesia

Published

on

Hana Kimura

Kilasjogja.com, JEPANG – Namanya Hana Kimura pegulat cantik keturunan Indonesia salah satu bintang yang bersinar di Stardom World dan Sendai Girls Pro Wrestling, dua perusahaan gulat Jepang. Cewe yang baru berumur 20 tahun ini selain berprestasi, dia pun punya paras yang sangat cantik, gaya bertarung yang khas dan punya otot yang kuat.

Kalo denger gulat, kamu pasti langsung pikiran sama The Rock, John Cena, Kane, Undertaker dan lainnya. Wajar sih, bintang-bintang World Wrestling Entertainment (WWE) ini emang keren banget dan udah mengoleksi banyak gelar. Tapi kamu tahu nggak kalau di Jepang juga ada program gulat FYI aja nih, Stardom merupakan perusahaan gulat di Jepang yang mirip banget sama WWE. Cuma bedanya, seluruh pegulat Stardom ini cewek, termasuk Hana.

Hana Kimura Mulai Gulat Sejak Usia 18 Tahun

Hana sudah memulai karir gulatnya sejak umur 18 Tahun, Debut ring-nya sendiri berlangsung pada 30 Maret 2016. Cuma sayang, ketika itu dia kalah sama Reika Saiki.

Tapi setelah itu, kariernya terus melesat. Bahkan bersama Hanako Nakamori, dia hampir saja dapet gelar Daily Sports Women’s Tag Team Championship.

Berikut beberapa foto aksi Hana saat di atas ring

View post on imgur.com

View post on imgur.com

View post on imgur.com

Karier Hana makin meroket saat dia gabung ke Stardom pada September 2017, dan memutuskan buat gabung sama stable Oedo Tai. Hingga saat ini, Hana masih masih gabung di Oedo Tai, dan sempat mendapat gelar Goddess of Stardom Championship bareng Kagetsu.

Ini yang paling menarik! Sebenarnya dari wajahnya aja udah kelihatan Indonesia banget. Usut punya usut, Hana ini konon keturunan Indonesia lho! Kabarnya, Ibunya Hana (Kyoko Kimura), pernah nikah sama orang Indonesia, walaupun akhirnya cerai.

Soal keturunan Indonesia, hal ini sempat dikonfirmasi sama mantan anggota Oedo Tai, Kris Wolf. Cuma sayang, Hana sendiri masih bungkam soal ini!

 

Continue Reading

olahraga

PS Tira Vs Persebaya di Stadion Sultan Agung Bantul

Published

on

PS Tira Vs Persebaya

Kilasjogja.com, BANTUL – Jumat (13/04/2018) PS Tira VS Persebaya Surabaya bertemu di Stadion Sultan Agung Bantul, Walaupun kondisi kedua tim dalam keadaan terpuruk usai kalah pada pertandingan sebelumnya yaitu pada saat PS Tira harus mengakui keunggulan dari Persipura Jayapura dan Persebaya juga harus ikut mengakui keunggulan Barito Putera di pekan ketiga.

Sama-sama kalah di laga sebelumnya, PS TIRA dan Persebaya mengincar pertandingan pekan keempat Liga 1 sebagai momentum kebangkitan.

“Kami ingin usahakan menang. Kami ingin lihat bagaimana pertandingan, dan kami ingin cari kemenangan,” tegas pelatih Persebaya, Alfredo Vera.

Persebaya diwajibkan tampil habis-habisan di kandang PS TIRA. Jika kembali gagal meraih poin penuh, posisi Persebaya di tabel klasemen bisa saja semakin terancam. Namun usaha Persebaya untuk bangkit di Stadion Sultan Agung bakal menemui jalan terjal. Pasalnya, Green Force sedang dalam kondisi pincang setelah diterpa badai cedera.

Kenyataan berbuah manis Pelatih Persebaya Surabaya, Angel Alfredo Vera, angkat bicara setelah anak asuhnya sukses membenamkan tuan rumah PS Tira dengan skor 1-4 di Stadion Sultan Agung Bantul Yogyakarta.

Alfredo Vera bersyukur atas tiga poin penting yang didapat skuat Bajul Ijo pada laga tandang ini.

Hal itu lantaran Persebaya hanya mengoleksi satu poin dalam dua laga terakhir yakni saat imbang di markas Persela Lamongan dan menelan kekalahan dari Barito Putera di kandang sendiri.

“Hari ini kami bisa bermain lebih bagus. Karena itu kami bisa mendapat tiga poin penting,” kata Alfredo Vera pada sesi press conference usai pertandingan, Jumat (13/4/2018).

Selain itu, arsitek berpaspor Argentina ini menyebut sejumlah hal yang menjadi kunci kemenangan anak asuhnya.

“Kemenangan ini berkat permainan kami yang efektif. Selain itu, kerja sama para pemain sukses menghasilkan tiga poin,” tuturnya.

Pelatih berusia 45 tahun ini mengaku bahwa kunci kemenangan Rendi Irwan dan kawan-kawan juga tak terlepas dari gaya bermain yang diusung PS Tira.

Alfredo Vera menilai, skuat besutan Rudy Eka Priyambada bermain terbuka dan sedikit lebih maju.

“Kunci kemenangan kami ialah permainan lawan yang sedikit maju ke depan. Kami memanfaatkan ruang kosong di antara para pemain lawan,” jelasnya.

Pada laga pekan keempat kompetisi Liga 1 musim 2018, Persebaya sukses mencuri kemenangan atas PS Tira dengan skor 1-4 kendati harus bermain dengan 10 pemain usai Robertino Pugliara diganjar kartu merah pada menit ke-51.

Empat gol Bajul Ijo disumbangkan oleh David da Silva (4′, 30′, 70′) dan Osvaldo Haay (45+1′).

Sedangkan gol semata wayang Manahati Lestusen dan kolega dicatatkan oleh Muhammad Dimas Drajad pada menit ke-82.

Continue Reading

olahraga

Mafia Bola Jadi ‘PR’ PSSI

Published

on

Sepak bola

Kilasjogja.com, FOOTBALL – Sepak bola tanah air kembali dihebohkan dengan pengakuan Kristian Adelmund, pemain asing asal Belanda.

Mantan pemain PSIM Yogya, PSS Sleman dan Persela Lamongan menjadi perbincangan karena pernyataannya kepada salah satu media online berbahasa Belanda, VICE Sport mengenai korupsi di persepakbolaan Indonesia.

Adelmund menceritakan pengalamannya melihat bos tim lawan memasuki ruang wasit dengan membawa pistol. Pengakuan salah satu pemain asing yang pernah merumput di Indonesia kepada media asing tentu saja menarik perhatian.

“Meski keadaan semakin baik saat ini, korupsi tetap menadi masalah utama sepakbola Indonesia. Sebagai contoh, saya pernah melihat bos lawan membawa pistol ke ruang ganti wasit. Anda tak perlu heran dengan hal itu di Indonesia,” terangnya.

Sebenarnya, tidak hanya Kristian Adelmund yang merasakan karut marut kompetisi sepak bola Indonesia. Pemain asing lainnya, Boubacar Sanogo juga pernah mengeluarkan keluh kesahnya ketika bermain membela Madura United di putaran pertama Liga 1 2017.

Kurang lebih tiga bulan bermain di Indonesia, Sanogo menceritakan hal yang menyedihkan dari sepakbola Indonesia kepada media Jerman, T-Online. Mantan pemain Timnas Pantai Gading ini merasakan dan melihat langsung bagaimana kondisi sepakbola Tanah Air.

“Saya tidak suka di sana (Indonesia). Strukturnya sangat memprihatinkan. Kami bahkan tidak memiliki ruang ganti dan shower di tempat latihan, jadi kami harus pindah ke rumah,” jelasnya.

Sanogo sendiri tercatat tak memiliki penampilan yang cukup baik selama dia berada di Madura United. Sebagai salah satu pemain asing, ia hanya bermain hanya dalam beberapa menit saja, empat dari lima laga ampil sebagai pemain pengganti.

Pemain asing lainnya, Peter Odemwingie bahkan pernah ingin mengakhiri kontrak bersama Madura United, meski tim berjuluk Laskar Sape Kerrab telah sepakat untuk memperpanjang kontraknya untuk kompetisi Liga 1 musim 2018, dengan memberikan uang muka yang nilainya mencapai Rp10 miliar.

Keinginan Odemwingie pergi karena permainan keras sepak bola Indonesia yang menjurus kasar sehingga sangat berisiko cedera. Dia kecewa terhadap kompetisi Liga 1 yang seolah tidak memberikan keselamatan bagi pemain. Tak ada jaminan dari operator liga ataupun federasi atas kelangsungan karirnya.

“Saya tidak akan bermain di Indonesia lagi, terlalu beresiko. Saya sebenarnya sangat terkesan dan nyaman di Madura United tapi buruknya operator liga membuat saya harus angkat kaki dari negeri ini,”ungkapnya.

Mantan striker Bali United, Sylvano Comvalius bahkan merasa karier sepak bolanya bisa saja terancam kalau tetap bertahan di Indonesia. Alasannya karena di Liga Indonesia, sepak bola masih lekat dengan urusan politik sehingga kalau saja PSSI kembali disanksi FIFA akan berpengaruh terhadap keterlambatan gaji pemain.

Dia juga masih kecewa karena Bali United gagal juara setelah rivalnya, Bhayangkara FC yang menjadi juara dengan dua poin tambahan dari keputusan komisi disiplin atas kemenangan walkout saat melawan Mitra Kukar yang sebenarnya berkesudahan imbang 1-1.

“Saya berpikir masih muda baru 33 tahun. Dan saya tentu mengutamakan karier sepakbola saya. Di Indonesia, politik mencampuri sepak bola,” katanya

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
loading...

Headline Berita