Connect with us

Kesehatan

Donor ASI Tidak Sembarangan!

Published

on

Donor ASI

Kilasjogja.com, KESEHATAN – Praktik donor ASI atau mencari ASI belakangan mulai marak di masyarakat. Umumnya mereka menemukan informasi tersebut di akun media sosial seperti facebook, twitter milik asosiasi ataupun komunitas ASI.

Salah satu akun media sosial yang kerap memberi informasi tentang donor ASI adalah Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Yogya. Hal ini dibenarkan oleh salah satu konselor menyusui mereka, Francisca Maria. Bahkan menurut ibu dua anak ini permintaan donor ASI hampir ada setiap minggu.

“Yang perlu dipahami adalah kami ini bukan bank ASI. Kami hanya membantu lewat sosial media. Nanti si pendonor dan calon penerima donor silahkan berhubungan langsung,” terangnya.

Cisca menjelaskan ASI merupakan cairan dari tubuh manusia yang bisa menjadi sarana penularan penyakit.

Maka bila donor ASI menderita penyakit, risikonya untuk menularkan kepada bayi sangat tinggi.
Karena itu donor ASI sendiri tidak boleh dilakukan sembarangan. Harus dilihat dari segi medis dan hukum agama.

Pihaknya pun hanya membantu menyebarkan informasi bagi mereka yang dianggap benar-benar membutuhkan. Misalnya ibu sakit parah, meninggal atau bayi yang lahir prematur dan lain sebagainya..

“Ingat donor ASI sifatnya sementara tidak bisa berlangsung lama. Itu pun tidak ada jaminan donor ASI yang dibutuhkan tersedia” jelas Cisca.

Cisca tak menampik mencari donor ASI memang lebih baik dibanding menggunakan susu formula. Permasalahannya adalah saat ini adalah tidak ada jaminan bagi si penerima donor apakah ASI yang didapatkan itu benar-benar aman, sehat dan layak dikonsumsi.

“Kami memang tidak bertanggung jawab tentang donor ASI ini, ” ungkapnya.

Untuk mengetahui tingkat keamanan ASI yang didonorkan, Cisca biasanya menyarakan bagi si penerima donor untuk mengetahui beberapa hal-hal terkait latar belakang dan riwayat kesehatan dari si pendonor.

Prosesnya bisa melalaui wawancara tatap muka atau jika diperlukan memeriksakan kesehatan secara menyeluruh untuk memastikan bebas dari penyakit berbahaya.

Namun, permasalah yang sering terjadi saat ini adalah banyak orang sengaja mencari donor ASI sebagai ‘jalan pintas’.

Seperti karena ASI yang belum keluar setelah melahirkan atau sengaja mencari donor karena hendak meninggalkan anak dalam waktu jangka lama tuntutan pekerjaan.

Kondisi ini yang sering ditemui Jogja Parenting Community (JPC), akun media sosial yang kerap memberi informasi tentang donor ASI.

Jika alasan ini yang dikemukakan, pihaknya tidak akan membantu mencarikan dan menyebarkan informasi. “Untuk donor ASI ini memang tetap ada skala prioritas,” jawab Ketua JPC, Fitri Andyaswuri.

Fitri menyarankan untuk mempertimbangkan terlebih dahulu sebelum memutuskan menerima donor ASI karena menyakut banyak hal. Bukan hanya terkait masalah kesehatan.

Misalnya bagiamana pola makan, agama, cara dan kebersihan pendonor ketika memerah dan teknik penyimpanan ASI perahnya si pendonor.

Dan menurutnya yang jauh lebih penting adalah jarak usia bayi pendonor dengan si penerima donor tidak terlalu jauh. Misalnya bayi yang berusia tiga bulan perlu mendapatkan donor ASI yang memiliki bayi usia sekitar tiga bulan juga.

“Sebenarnya sifat kami hanya membantu mencarikan sesuai kriteria yang ditetapkan biasanya oleh penerima donor,” katanya.

Syarat yang ketat sendiri adalah konsekuensi besar di balik pilihan donor ASI. Salah satunya adalah tidak boleh terjadi perkawinan dari dua orang yang mengandung gen yang sama.

Artinya, bayi yang mendapat donor ASI tidak boleh melakukan perkawinan dengan anak pendonor kelak. Apabila terjadi perkawinan besar kemungkinan keturunannya menderita cacat gen.

“Komunikasi intens dengan si pendonor perlu dilakukan dalam jangka waktu panjang. Tidak boleh langsung terputus begitu saja,” tukas Fitri.

 

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Kesehatan

Posisi Menyusui Yang Baik Bagi Sang Ibu dan Bayi

Published

on

menyusui

Posisi Menyusui Yang Benar

Kilasjogja.com, Kesehatan – Menyusui anak bukan hal yang mudah. Terlebih pada ibu yang baru pertama kali memiliki anak. Makanya, sangat disarankan untuk setiap ibu yang akan memiliki anak agar mau belajar bagaimana menyusui yang benar supaya nantinya si anak mendapatkan ASI terbaik.

Tapi, kekhawatiran akan memberikan ASI pada anak pertama itu sangatlah tinggi. Banyak ibu muda atau ibu anak pertama yang kemudian takut hingga akhirnya terjadilah masalah baru; ASI sedikit.

Ya, dijelaskan Dokter Spesialis Kesehatan Anak DR. dr. Naomi Estherina Dewanto, Sp. A (K), salah satu penyebab kenapa akhirnya muncul masalah ini adalah mindset yang keliru. “Banyak ibu muda yang belum mencoba sudah stres yang akhirnya memengaruhi produksi ASI tubuhnya,” terang dr Naomi, Senin (6/8/2018).

Dr Naomi melanjutkan, selain itu, tekanan dari suami atau mertua juga bisa menjadi penyebab lain masalah ini muncul. Tidak bisa dipungkiri, ads beberapa suami yang menilai ketika anaknya nangis terus, dia akhirnya meminta sang istri memberikan susu formula saja dibandingkan harus melihat anaknya yang tidak puas akibat ASI sang istri sedikit. Pun kasusnya terjadi pada mertua.

Kondisi semacam ini ternyata juga memengaruhi mental sang istri. “Mental istri pasti langsung jeblok kalau udah denger kalimat ini. Makanya saya menghimbau agar semua anggota keluarga mau mendukung pemberian ASI ekslusif dan jangan langsung berpasrah pada susu formula,” kata dr Naomi.

Ibu Yang Baru Pertama Kali Menyusui

Dr Naomi menegaskan bahwa untuk para ibu yang baru pertama kali menyusui, sangat wajar ketika Anda satu atau dua hari mencoba menyusui anak tapi ASI-nya tidak keluar. “Tenang, menyusui adalah sebuah proses dan jangan langsung patah semangat ketika hari-hari pertama melahirkan, payudara Anda belum menghasilkan ASI yang banyak,” tambahnya.

Di sisi lain, masalah ASI sedikit ini juga bisa disebabkan karena saat memberikan ASI pada si bayi, posisi ibu atau bayinya tidak tepat. Alhasil, produksi ASI menjadi sedikit. Tidak hanya itu, salah posisi juga bisa menyebabkan puting payudara lecet.

Nah, pada Kilasjogja, dr Naomi coba menjelaskan bagaimana posisi menyusui yang paling baik dan berikut panduannya:

  1. Usahakan untuk dagu si bayi menempel pada payudara ibu. Hal ini berkaitan dengan kesempurnaan posisi puting dengan mulut bayi.
  2.  Pastikan mulut bayi terbuka lebar. Sebab, dengan posisi seperti itu, si bayi akan sampai pada bagian areola payudara ibunya yang mana itu merupakan sumber utama ASI.
  3.  Perhatikan dengan baik bahwa posisi perut si bayi sejajar dengan perut ibu. Ini pun berkaitan dengan letak mulut si bayi pada puting.
  4.  Jika dirasa perlu, pastikan telinga di bayi sejajar dengan bahu ibu. Ini pun berkaitan dengan kenyamanan si anak saat menyusui dan memastikan si anak menempatkan mulut pada area payudara yang benar.

Dr Naomi menambahkan bahwa jangan pernah berpikiran bahwa ibu memiliki ASI sedikit. “Tidak ada istilah itu. Setiap ibu pasti bisa menyusui dan akan menghasilkan ASI yang cukup untuk anaknya. Hal-hal yang telah disebutkan yang harus diperhatikan dan akan menentukan bagaimana produksi ASI berlangsung,” papar dr Naomi.

Baca Juga:

Continue Reading

Kesehatan

TERAPI STEM CELL : Sukses Sembuhkan Penyakit Mematikan

Published

on

Kilasjogja.com, KESEHATAN – Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terbukti memberikan banyak manfat.

Salah satu contoh paling anyar adalah terapi stem cell atau sel punca. Pengobatan ini terbukti ampuh menyembuhkan penyakit serius seperti jantung, stroke, parkinson, diabetes serta berbagai macam kanker.

Stem cell atau sel punca sendiri sebenarnya adalah sel induk yang dalam perkembangan embrio manusia menjadi sel awal yang akan tumbuh menjadi berbagai organ.

Sel ini belum terspesialisasi dan mampu berdeferensiasi menjadi berbagai sel matang, sehingga memiliki kemampuan meregenerasi diri sendiri.

Terapi ini sebenarnya bertujuan untuk memperbaharui atau memperbaiki jaringan yang rusak.


Untuk melakukannya, stem cell bisa diambil dari beberapa bagian tubuh sendiri. Seperti sumsum tulang belakang, lemak, tali pusat hingga darah.

Sel punca ini terbagi menjadi tiga jenis, yaitu autologus (sumber stem cell dari diri sendiri), syngenic (sumber stem cell dari saudara kembar identik) dan alogenik (sumber stem cell dari saudara kandung, orang tua atau orang lain).

Terapi stem cell sendiri mulai dipublikasikan pertama di tahun 1963, ketika penelitian kedokteran di Amerika.

Saat itu disimpulkan jika darah di dalam ari-ari dan tali pusat mengandung berjuta-juta sel induk pembentuk darah, yang sejenis dengan sel induk yang ditemukan di dalam sumsum tulang yang dapat dipakai si bayi dan keluarganya untuk menyembuhkan berbagai penyakit.

Sedangkan pencangkokan darah tali pusat (umbilical cord blood) pertama kali dilakukan pada seorang anak penderita anemia fanconi di Paris pada tahun 1988 dan dinyatakan berhasil.

Di Indonesia sendiri, terapi stem cell sudah dilaksanakan pada penderita penyakit jantung di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta tahun 2007.

Sutradara Iqbal Rais yang divonis kanker darah pada tahun 2011, menjadi pasien pertama yang melakukan terapi stem cell yang diambil dari sumsum tulang belakang di RSUD DR Soetomo Surabaya tahun 2013.

Sayang nyawanya tak tertolong karena terserang kanker ganas dan leukimia akut.

Kontroversi

Sejauh ini, penggunaan terapi stem cell masih menimbulkan kontroversi dan mendapat larangan di beberapa negara.

Negara Amerika Serikat misalnya, mereka melarang pendanaan penelitian stem cell yang menggunakan sel induk berasal dari embrio manusia.

Namun, di beberapa negara seperti Singapura, Korea, dan India, penggunaan stem cell embrio manusia untuk kedokteran justru diperbolehkan.

Di Kanada membolehkan penggunaan embrio sisa bayi tabung untuk penelitian sel induk.

Pemerintah Singapura bahkan berani menanamkan modal dalam upaya penelitian sel induk yang berasal dari embrio manusia. Negara ini bahkan mendidirikan bank penyimpanan darah tali pusat.

Pengkloningan embrio manusia untuk memperoleh sel induk atau sel punca menimbulkan kontroversi.

Sebabnya karena dianggap lantaran berhubungan dengan pengkloningan manusia atau pengkloningan reproduksi yang ditentang semua agama.

Dalam proses pemanenan sel induk dari embrio terjadi kerusakan pada embrio yang bisa menyebabkan kematian.

Pandangan bahwa embrio mempunyai status moral sama dengan manusia menyebabkan hal ini sulit diterima.

Karena itu pembuatan embrio untuk tujuan penelitian merupakan hal yang tidak dapat diterima banyak pihak.

 

Baca Juga:

Continue Reading

Kesehatan

Cara Mengusir Nyamuk DBD

Published

on

Nyamuk DB

Kilasjogja.com, KESEHATAN – Dalam lima puluh tahun terakhir kejadian penyakit DBD (demam berdarah) sebagai penyakit endemik yang ditularkan oleh nyamuk telah mengalami peningkatan hingga tiga puluh kali lipat di seluruh dunia.

Menurut data yang diterbitkan oleh WHO selaku organisasi kesehatan dunia dan juga Kementerian Kesehatan Indonesia, yang dilansir dalam laman krjogja.com, pada 2016, ada sebanyak 15,2 juta kasus DBD tercatat di Asia Pasifik, lalu sebanyak 202.314 kasus termasuk di dalamnya 1.593 kematian itu dilaporkan terjadi di Indonesia.

Secara alamiah, Indonesia adalah negara tropis dengan musim kemarau dan musim hujan bercurah tinggi. Perihal musim ini mau tidak mau memang menjadi salah satu faktor pendukung penularan penyakit yang disebabkan oleh nyamuk, yakni demam berdarah, zika, dan malaria jadi semakin mudah.

Upaya pengendalian penyakit ini, sejatinya tidak hanya dilakukan oleh pihak pemerintah. Masyarakat idealnya juga sudah melakukan berbagai upaya bersifat preventif, alias pencegahan sebelum terjadinya penyakit. Bukan reaktif, yang mana artinya baru bertindak setelah ada kasus penyakit telah terjadi.

Apa yang bisa kita dilakukan di lingkungan sendiri? Upaya tersebut bisa dimulai dari lingkungan rumah sendiri untuk mencegah datang dan berkembang biaknya nyamuk-nyamuk penyebab demam berdarah, malaria, dan zika. Setidaknya ada tiga cara yang bisa dilakukan, yaitu fisik, biologis, dan kimia.

Cara pertama ialah melalui cara fisik, yakni dengan 3M yang sudah banyak dikenal masyarakat. Tapi sekarang, konsep 3M berarti menguras, menutup, dan mendaur ulang (mendaur ulang barang-barang bekas yang masih bernilai ekonomis). Bukan lagi mengubur langsung di dalam tanah, seperti konsep 3M yang dulu dipahami.

Lalu, cara kedua yang sederhana dan mudah dilakukan ialah dengan cara biologis. Yaitu, mencoba menghadang datangnya nyamuk, dengan cara alami lewat penanaman aneka tanaman di rumah atau lingkungan sekitar. Apa saja tanaman yang selain bisa menghijaukan pemandangan di rumah, namun juga bisa berfungsi untuk menghalau kehadiran nyamuk?

Kepala Subdit Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Dr Suwito MKes mengatakan bahwa kita bisa coba menanam lavender, sereh, dan zodiac di sekitar lingkungan rumah.

“Ini beberapa contoh tanaman untuk mengusir nyamuk yang mudah ditanam di rumah dan cocok untuk iklim tropis. Selain bisa digunakan untuk aktivitas rumah tangga, sereh itu contohnya . Tanaman jenis ini bisa membantu untuk mengusir nyamuk, karena ada aroma atsiri yang tidak disenangi oleh nyamuk,” jelasnya.

Terakhir, atau yang ketiga adalah cara kimia yaitu fogging alias penyemprotan dengan menggunakan pestisida yang bertujuan untuk membunuh nyamuk-nyamuk dewasa penyebab penyakit demam berdarah, malaria, dan zika.

Baca Juga:

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
loading...

Tag

Headline Berita