Connect with us

News

Bonus Demografi, Berkah atau Bencana?

Published

on

Bonus Demografi

Kilasjogja.com, NASIONAL -Saat ini Indonesia sedang mengalami lonjakan jumlah penduduk usia produktif atau yang biasa disebut bonus demografi mencapai 67,3 persen . Lonjakan tersebut sudah dimulai sejak 2012.

Pertambahan jumlah penduduk usia produktif tersebut akan mencapai puncak pada 2035. Namun respon pemerintah untuk menyambut potensi SDM tersebut belum memenuhi harapan.

Soni Sumarsono, Dirjen OTDA Kemendagri  mengatakan setiap daerah seharusnya memiliki expertise mapping berisi jenis keahlian yang dibutuhkan setiap daerah. Selama ini yang ada di daerah masing-masing hanya data pendidikan yang dienyam oleh masing-masing penduduk usia produktif.

“Kemudian dalam aspek pendidikan, khususnya terkait tenaga terampil dan profesional, seberapa jauh negara merespon tenaga terampil? Selama ini negara fokus mencetak sarjana, harusnya juga fokus mencetak para ahli. Oleh karena itu, SMK harus hidup kembali,” terangnya.

Selain itu, lanjut Soni, kebijakan daerah juga harus mewadahi minat dan bakat para penduduk usia produktif tersebut. Tentang hal ini, Soni mengatakan bahwa di Jakarta saat ini sudah tumbuh banyak co working space untuk mewadahi minat dan bakat anak-anak muda yang modalnya masih kecil.

“Jadi itu untuk anak-anak muda yang mau berusaha tapi modalnya masih kecil agar mendapat satu room di working space. Bisa dipakai bareng satu tim,” jelasnya.

Erwan Agus Purwanto, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM,mengatakan apakah bonus demografi akan menjadi berkah atau bencana semua tergantung bagaimana cara bangsa ini memanfaatkan momen tersebut.

“Untuk bisa memanfaatkan SDM ini, di sisi lain, kita butuh sektor yang bisa banyak menyerap SDM,” ungkapnya.

Erwan menggambarkan, saat ini lapangan kerja milik pemerintah sudah tidak cukup untuk menampung SDM usia produktif. Saat ini pemerintah menampung sebanyak 4,5 juta tenaga usia produktif sehingga upah bagi mereka sangat kecil.

“Oleh karena itu sektor swasta harus dikembangkan. Artinya sektor-sektor selain pemerintah yang potensial dalam menyerap anak-anak muda seperti maritim dan industri kreatif, itu akan sangat membantu,” ujarnya.

Apabila tenaga-tenaga potensialtersebut tidak diserap, Erwan mengkhawatirkan akan mengarah pada hal negatif seperti ujaran kebencian dan menyumbang hoax

.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.