Connect with us

Bantul

AKBID Ummi Khasanah Luluskan 96 Bidan Baru

Published

on

Akbid Ummi Khasanah

Kilasjogja.com, BANTUL – AKADEMI Kebidanan Ummi Khasanah (Akbid Ukha) Yogyakarta menggelar wisuda angkatan VIII tahun akademik (2016/2017).

Sidang senat terbuka wisuda berlangsung di Hotel Sahid Jaya Yogyakarta dan dibuka oleh DR. Drs. Ardi Rispurwanto, M.Psi., MA selaku Ketua Senat Akademik AKBID Ummi Khasanah. 96 wisudawati dinyatakan berhak menyandang gelar Diploma III (D3). 

Tuti Rohani, S.SiT.,M.Kes, selaku Direktur AKBID Ummi Khasanah dalam sambutannya mengharapkan para wisudawati dapat berperan dalam pencapaian target ketiga dari tujuan pembangunan berkelanjutan atau  Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu kehidupan sehat dan sejahtera, khususnya terkait kesehatan ibu dan bayi.

“Masalah kesehatan ibu dan bayi menjadi salah satu isu penting yang dihadapi Indonesia dalam dekade ini,” terangnya, Kamis (7/9).

Sebagai seorang penyedia layanan kesehatan, bidan memiliki peran yang strategis dan sangat unik. Bidan adalah seorang agen pembaru yang sangat dekat dengan masyarakat dan hidup di tengah-tengah masyarakat, serta berperan dalam memberdayakan perempuan dan masyarakat.

“Masyarakat sangat membutuhkan kehadiran seoranag bidan,” jelasnya.

 

Ketua PD IBI DIY, Nunik Endang Sunarsih, SST., SH.,M.Sc menjelaskan untuk dapat menjalankan praktik kebidanan atau praktik bidan mandiri (BPM), para wisudawati ini masih harus mengikuti uji kompetensi Nasional.

Setelah lulus baru akan mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) atas usulan Majelis Tenaga Kesehatan Provinsi (MTKP) bekerjasama dengan organisasi IBI.

Selanjutnya setelah mendapatkan STR untuk segera mendaftar menjadi anggota IBI sebagai syarat untuk dapat mengurus Surat Ijin Praktik Bidan (SIPB).

“Sebagai anggota profesi kami berpesan jagalah nama baik organisasi, bekerja secara professional, patuh dalam memberikan pelayanan sesuai standar kompetensi dan kewenangan bidan. Yang terpenting mematuhi kode etik bidan,” ungkapnya.

Wisudawati terbaik diraih oleh Nurul Fatmawati (IPK 3,76), Puspa Andriana (IPK 3,63), Noviana Cavita Sari (IPK 3,58), Nirma Nurasfiani (IPK 3,57), (IPK 3,56), Novita Yulia Meita Saroh dan Jeni Purnamawati (IPK 3,51).

Dalam acara wisuda ini juga turut dilakukan prosesi angkat sumpah profesi bidan bagi wisudawati yang dipimpin oleh Ketua PD IBI DIY, Nunik Endang Sunarsih, SST., SH.,M.Sc.

Acara wisuda ini pun dihadir oleh Dewan Pembina Yayasan Ummi Khasanah  yaitu DR. dr. H.M Ani Ashari, Sp.OG(K), Dewan Pengurus Harian Yayasan Ummi Khasanah, Direksi RSKIA Ummi Khasanah, PD IBI DIY, Koordinator Kopertis Wilayah V, Dinas Kesehatan Yogyakarta dan Pemda Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Baca Juga:

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Bantul

HUT BANTUL: Angka Kemiskinan di Bantul 14,07 Persen

Published

on

Angka Kemiskinan di Bantul

Kilasjogja.com, BANTUL – Pengurangan angka kemiskinan di bantul harus menjadi program dan prioritas utama di tahun 2019. Meski, Kepala Badan Perencanaan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bantul, Ir Fenty Yusdayati MT mengatakan angka kemiskinan di Kabupaten Bantul dari tahun ke tahun terus menurun. Namun tetap saja persentasenya masih tinggi.

“Terhitung dari tahun 2015, angka kemiskinan mencapai 15,2 persen. Saat ini 2018 menurun menjadi 14,07 persen. Karena itu program-program untuk menguranginya perlu terus dilakukan,” terangnya di Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Bantul ke-187.

Bantul memiliki beberapa program berkelanjutan penanggulangan kemiskinan melalui pembentukan lembaga Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) hingga tingkat padukuhan, program pemberdayaan masyarakat, program pengurangan bebas Keluarga Miskin, validasi data keluarga miskin, dan pengembangan Produk Andalan Setempat (PAS).

“Menurunkan angka kemiskinan sangatlah berat dan sulit dilakukan, apalagi secara signifikan. Namun upaya pengurangan dan penanggulangan kemiskinan di Bantul tetap menjadi program prioritas kami,” jelasnya.

Selain validasi data, untuk mengurangi angka kemiskinan, pihaknya melakukan program pendampingan bantuan dengan pengurangan beban hidup bagi warga tertentu. Misalnya warga miskin, penyandang disabilitas dan masih memiliki banyak tanggungan.

Selain program tersebut Bappeda juga melakukan program padat karya, pemberian modal berkesinambungan dan sebagainya. “Meski belum berdampak signifikan, namun program-program ini sedikit mengurangi angka kemiskinan,” jawabnya.

Baca Juga:

Continue Reading

Bantul

Try-out Konsep Bandara Ala SMA Buma

Published

on

try out SMA

Kilasjogja.com, BANTUL – Untuk pertama kalinya, OSIS SMA Negeri 1 Pleret Bantul (SMA Buma) menggelar latihan ujian sebelum ujian nasional (UN) atau try-out untuk siswa dan siswi SMP se Kabupaten Bantul.

302 peserta tercatat mengikuti even bertajuk The First Time Buma in Try-out.

Konsep yang diusung pada try-out  kali ini cukup unik karena mengambil tema airport atau bandara.

“Konsep try-out-nya unik. Waktu pengumuman di kelas suaranya seperti waktu di dalam bandara,” terang Diah, salah satu peserta.

Ketua acara try-out, Yudhatama RWA mengatakan konsep bandara ini sengaja dipilih untuk membuat nyaman peserta try-out ketika mengerjakan soal.

Mereka akan merasakan sensasi menengerjakan soal seperti di dalam bandara.

“Sekolah kami desain seperti bandara. Di depan pintu masuk ada pesawat dan sistem gate. Sebelum masuk peserta juga harus check in terlebih dulu untuk mendapat nomor kursi,” jelas cowok yang juga menjabat sebagai Ketua OSIS SMA Buma.

 

Acara Try-out dimulai sejak pukul 07.00 WIB – Selesai. Sebanyak 100 soal dari tiga mata pelajaran meliputi IPA, Bahasa Indonesia dan Matematika diberikan untuk dikerjakan dalam waktu dua jam.

Cukup singkat, karena bila mengikuti jumlah soal dan waktu seperti try-out biasanya akan banyak memakan waktu.

Setiap kelas diawas dua panitia yang terdiri dari pengurus OSIS dan Majelis Permusyawaratan Kelas (MPK).

“Untuk pengadaan soal kami berkerjasama dengan lembaga pendidikan Neutron,” ungkapnya.

Sambil menunggu pengumuman hasil try-out, para peserta bisa mengikuti ragam hiburan yang digelar di lapangan upacara, seperti musik, pagelaran karya seni, pemutaran film pendek dan pembagian doorprize  dengan hadiah utama satu unit sepeda.

 

 

Nilai tertinggi try-out kali ini diraih oleh Dewi Ratna Sari dengan jumlah nilai 30.80 dan nilai rara-rata 7.70. Nilai tertinggi kedua didapat M Alfa Nur Hani (29.60/7.40) dan ketiga adalah Muhammad Nur Latif (29.60/7.40). Peraih nilai tertinggi mendapat hadiah uang pembinaan dan sertifikat.

“Tujuan try-out tentu untuk mengenalkan SMA Negeri 1 Pleret dan membantu siswa siswi kelas IX SMP/MTs dalam mempersiapkan diri jelang Ujian Nasional,” kata Drs Imam Nurrohmat, kepala sekolah SMA Negeri 1 Pleret Bantul.

Baca Juga:

Continue Reading

Bantul

Pekan Depan Nasib PHL Ditentukan

Published

on

PHL Bantul

Kilasjogja.com, BANTUL – Nasib para Pegawai Harian Lepas (PHL) yang sebelumnya tidak diperpanjang kontrak dan dinyatakan Tidak Memenuhi Syarat (TMS), kembali mendatangi kantor DPRD Bantul.

Pasca pertemuan dengan dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Komisi A DPRD Bantul beberapa waktu lalu, telah disepakati sebanyak 346 PHL yang dinyatakan TMS akan dikaji ulang untuk dapat bekerja kembali.

Koordinator PHL, Raras Rahmawatiningsih, menuturkan mereka datang ke DPRD untuk mempertanyakan kejelasan apakah mereka akan dipekerjakan kembali. “Kami hanya mempertanyakan kejelasan nasib kami,” jelasnya.

Wakil Ketua Komisi A, Heru Sudibyo, menambahkan proses pengkajian masih tetap terus berjalan. Ditargetkan pada pertengahan Februari mendatang hasilnya sudah dapat diakses. Heru menyatakan proses pengkajian dilakukan bagi 346 PHL yang dinyatakan TMS. Dari 346 PHL ini akan diseleksi lagi terutama dari sisi umur, pendidikan dan sebagainya.

“Misalnya kalau usia sudah lebih dari 56 hingga 58 tahun memang sebaiknya sudah tidak masuk kriteria untuk dikontrak lagi. Begitu pula dengan pendidikan minimal yang harus lulus jenjang SD dan bisa baca tulis. Meski tukang sapu misalnya, kalau tidak lulus SD juga kayaknya berat mau dikontrak lagi,” jelas Heru.

Dirinya berjanji, pihak Komisi A akan mengawal proses seleksi dan pengkajian ulang bagi PHL yang TMS. Ditambahkannya, dalam proses pengkajian tersebut, OPD butuh waktu terutama mengklasifikasikan dari sisi usia, ijazah serta penempatan yang sesuai.

“Kita tidak bisa memastikan sebanyak 346 PHL ini seluruhnya dikontrak kembali atau tidak. Tetapi paling tidak, mana PHL yang masih masuk kriteria untuk dapat bekerja kembali dan dikontrak lagi,”ungkapnya.

Baca Juga:

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
loading...

Tag

Headline Berita