Connect with us

Travel

Museum Gula Gondang Winangun: Objek Wisata Sejarah Pergulaan

Published

on

Kilasjogja.com, TRAVEL – Diresmikan pada hari Sabtu Kliwon 11 September 1982, Museum Gula Jawa Tengah merupakan satu-satunya objek wisata sejarah pergulaan di Indonesia. Museum yang dibangun atas prakarsa Soepardjo Roestam saat menjabat Gubernur Jawa Tengah itu berlokasi di kompleks Pabrik Gula (PG) Gondang Winangun, Klaten.

Provinsi Jawa Tengah pada zaman penjajahan Belanda hingga masa Indoensia Merdeka memiliki 53 PG. Salah satunya PG Gondang Winangun yang merupakan PG terkecil di Jawa Tengah. Pabrik ini dibangun VOC pada tahun 1860 dan mulai beroperasi tahun 1884. Kapasitas produksinya mencapai 1.500 kuintal gula pasir setiap musim giling.

Suharto, karyawan PG Gondang Winangun yang kini ditugasi menjadi pemandu wisata Museum Gula mengatakan meski pabrik gula terkecil, namun kualitas produksinya terbaik di Jawa Tengah. Penyebabnya antara lain tanah di Klaten dan sekitarnya cocok untuk ditanami tebu.

Menjadi objek wisata sejarah, Museum Gula Jawa Tengah dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang kepariwisataan. ‘Rest Area’ dan ‘Home Stay’ – kolam renang – kereta mini bermesin diesel untuk keliling kawasan pabrik seluas 5 Hektare.

MUSEUM Gula terbagi dalam dua objek, di dalam dan luar ruang. Dalam ruang berisi beragam alat bercocok tanam tebu, peralatan perkantoran serta foto-foto proses produksi gula pasir. Sedang luar ruang mengetengahkan mesin penggiling tebu, lokomotif lori pengangkut tebu dari kebun ke pabrik, serta mesin pembangkit listrik.

Salah satu objek yang berada di dalam ruang menginformasikan tentang sejarah gula. Disebutkan, tanaman tebu ditemukan pertama kali pada tahun 510 SM di India yang saat itu dikuasai oleh Raja Darius. Penemuan batang tanaman berasa manis itu sangat dirahasiakan. Pada abad VII M ketika Persia berada dalam penguasaan bangsa Arab, ditemukan cara pengolahan tanaman tebu menjadi gula.

Setelah Perang Salib, orang-orang Eropa mulai mengetahui rahasia tanaman gula yang waktu itu masih menjadi barang mewah sehingga dinamai ‘Emas Putih’. Di Inggris pada tahun 1319 gula pasir mulai memasuki pasar Eropa termasuk Inggris, dengan harga dua shilling/pound di London.

 

Dengan tingkat permintaan yang tinggi di Eropa, bangsa-bangsa Eropa mulai melirik ke dunia Timur sebagai lahan potensial tanaman tebu. Termasuk bangsa Belanda, melalui perseketuan dagangnya bernama VOC menanam tebu secara besar-besaran sekaligus membangun pabrik-pabrik gula di Pulau Jawa.

Hingga menjelang Perang Dunia II, pabrik-pabrik gula di Pulau Jawa menjadi produsen sekaligus eksportir gula terbesar di dunia. Museum Gula berikut fasilitas wisata penunjangnya bukan hanya dikunjungi wisatawan Nusantara. Namun juga wisatawan mancanegara, terutama dari Negeri Belanda. Di antara warga negara Belanda yang menjadi pengunjung tetap adalah anak keturunan de Meyer yang ditengarai menjadi direktur pertama PG Gondang Winangun.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.