Connect with us

Bantul

Minyak Jelantah Pengganti Solar

Published

on

minyak jelantah

Kilasjogja.com, BANTUL – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Panggung Lestari, Panggungharjo Sewon Bantul bersama PT Tirto Investama Danone Aqua melakukan kerja sama dalam pengolahan Refined Used Cooking Oil (R-UCO) atau minyak goreng bekas (jelantah) untuk dijadikan bahan bakar alternatif pengganti solar.

R-UCO merupakan limbah bekas penggorengan yang umumnya dikenal sebagai minyak jelantah.

Kesepakatan kerja sama tersebut ditandatangani Lurah Desa Panggungharjo, Wahyudi Anggoro Hadi S Farm Apt, dan Direktur Pembangunan Berkelanjutan Danone Indonesia, Karyanto Wibowo, disaksikan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Bantul, Bambang Guritno SH mewakili Bupati Bantul di Balai Desa Panggungharjo,.

Menurut Wahyudi Anggoro Hadi, minyak jelantah yang biasanya dibuang dan mencemari lingkungan sekarang memiliki nilai manfaat.

Karena itu pihaknya bersama warga merancang peralatan untuk memproduksi dan meningkatkan kualitas R-UCO dengan menggunakan teknik crackingatau pirolisis.

Untuk mendapatkan minyak jelantah, selain mengumpulkan dari warga setempat juga mendatangkan dari sekitar Bantul, Gunungkidul dan Purworejo.

“Hasil pemurnian dari minyak jelantah juga telah dipergunakan untuk operasional Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Reduce, Reuce, Recycle (TPST3R) di Desa Panggungharjo”, jelasnya.

Selama ini BUMDes Panggung Lestari, memproduksi bahan bakar dari minyak jelantah sebanyak 33 ton selama 2016. Kemudian tahun ini sudah memproduksi sekitar 27 ton yang disetor ke Danone Aqua.

Sementara Karyanto Wibowo menambahkan, sejak tahun 2014 Danone menggunakan R-UCO yang diproduksi BUMDes Panggung Lestari untuk dicampur solar dengan perbandingan 20 persen R-UCO dan 80 persen solar.

Tetapi pada tahun depan pihaknya berencana menggunakan R-UCO 100 persen tanpa campuran solar.

Bahaya minyak goreng bekas atau jelantah adalah setelah proses penggorengan residu yang semakin besar karena ada akumulasi sisa-sisa makanan olahan sebelumnya.

Sangat berbahaya jika digunakan untuk proses menggoreng setelahnya, sebab akumulasi residu jahat akan semakin banyak termakan dan menimbulkan efek berbahaya bagi kesehatan anda.

ersebut akan mengandung zat karsinogenik berbahaya, yaitu zat yang memicu timbulnya penyakit kanker.

Minyak jelantah semakin lama dan sering dipakai untuk penggorengan berulang, resiko bahaya minyak goreng bekas akan semakin besar yang beresiko buruk bagi kesehatan.

Karena itu gunakan minyak goreng baru untuk maksimal 2-3 kali penggorengan. Tentu saja lebih ideal lagi jika sekali pakai, minyak langsung diganti.

Ciri umum dari minyak jelantah atau bekas adalah berwarna pekat kecoklatan bahkan coklat tua , sedangkan minyak baru cenderung lebih bening.

Minyak bekas beraroma khas, sedangkan minyak baru tidak berbau. Oleh sebab itu anda wajib tahu dalam membedakan minyak goreng bekas dengan yang masih baru.

.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.