Connect with us

Nasional

Kerusuhan Sampit Kisah Mengerikan Suku Dayak dan Suku Madura

Published

on

Kerusuhan Sampit Dayak

Kerusuhan Sampit adalah sebuah peristiwa mengerikan yang terjadi pada Februari 2001 silam.

Jika Anda melihat tagar twitter hari ini maka Anda akan tahu jika kerusuhan Sampit menjadi trending.

Kerusuhan tersebut melibatkan suku Banjar, suku Dayak dan warga Madura.

Di masa itu, kota kebanggaan Kalimantan Tengah itu berubah tema menjadi apocalypse dengan banyaknya pemandangan ngeri yang terlihat sejauh mata memandang.

Mayat bergelimpangan, rumah-rumah dibakar, listrik mati total, serta teriakan-teriakan keras untuk berperang.
Sungguh, ini adalah momen paling mengerikan saat itu.

Konflik ini dilatarbelakangi munculnya gesekan antara dua etnis ini semenjak pemerintah membuka program transmigrasi.
Banyaknya orang-orang Madura yang berdatangan membawa dampak yang tidak bagus bagi warga asli.

Suku Dayak Dalam terlibat dengan ikut sertanya Panglima Burung, warga Dayak Dalam yang konon dikabarkan sakti mandraguna.

Ia bisa ciptakan mandau atau golok terbang yang akan mengikuti musuhnya dan menebas kepala musuhnya hanya dengan sekali tebasan.

Panglima Burung adalah pahlawan yang akan membantu orang-orang Dayak menyelesaikan masalah pelik yang berat.

Suku Dayak Dalam terlibat dengan ikut sertanya Panglima Burung, warga Dayak Dalam yang konon dikabarkan sakti mandraguna. Ia bisa ciptakan mandau atau golok terbang yang akan mengikuti musuhnya dan menebas kepala musuhnya hanya dengan sekali tebasan.

Panglima Burung adalah pahlawan yang akan membantu orang-orang Dayak menyelesaikan masalah pelik yang berat. Konon, ketika Panglima Burung muncul, maka dipastikan hal sebesar apa pun akan segera mampu terselesaikan.

Pada tahun 2017 silam terdengar kabar pernikahan gaib Panglima Burung yang disebutkan mempersunting Sri Baruno Jagat Prameswari, konon sebagai titisan dari penguasa Laut Selatan, Nyi Roro Kidul.

Panglima Burung atau Pangkalima adalah tokoh mitos nan legendaris yang dipercayai sebagai tokoh pelindung dan pemersatu Suku Dayak, Kalimantan.

Panglima Burung tinggal di daerah gaib pedalaman Kalimantan dan mengawasi seluruh kehidupan Suku Dayak di Kalimantan.
Panglima Burung akan turun sewaktu-waktu dalam bentuk seutuhnya atau merasuki seseorang untuk menolong apabila Suku Dayak sedang dalam posisi terancam, teraniaya, atau hendak melakukan peperangan.

Sosok ini digambarkan sebagai tokoh yang memiliki sifat serta karakter sebagai “Orang Dayak Sejati”, yaitu cinta damai, mengalah, suka menolong, pemalu, sederhana, tapi akan berubah kejam dan gagah berani ketika posisi mereka terancam.

Biasanya masyarakat Dayak melakukan ritual Tari Perang khusus untuk memanggil Panglima Burung.

Pernikahan itu kabarnya dilaksanakan pada Selasa (28/2/2017) pukul 08.00 WIB di rumah Damang Kepala Adat Kecamatan Katingan Tengah, Isay Judae.

Kabar itu berasal dari pesan beredar yang menyebut bakal dilakukannya pernikahan ini setelah Isay Judae pada 12 Februari 2017 sekitar pukul 16.00 WIB menerima seorang tamu yang mengaku sebagai Retno.

Perempuan itu mengaku sebagai utusan dari Sri Baruno Prameswari dan memintanya dapat melakukan ritual adat Dayak atas pernikahannya dengan Pangkalima Burung.

Pada kesempatan itu, Retno juga disebutkan menyerahkan uang Rp 16 juta untuk keperluan ritual adat dimaksud.

Tak hanya itu, pada 19 Februari 2017, Retno kembali menemu Isay Judae untuk memastikan persiapan yang telah dilakukan Demang Kepala Adat atas persiapan ritual adat yang diminta.

Saat itu, dia juga menyerahkan uang untuk pembelian sapi, babi, ayam dan lainnya serta untuk mencetak undangan.
Pada tanggal 21 Februari 2017 sekitar pukul 11.00 WIB, Ibu Retno kembali datang dan menyerahkan uang Kepada Damang Kepala Adat Kecamatan Katingan Tengah sehingga total uang yang diberikan sebanyak Rp80 juta.
Kapolres Katingan AKBP Tato Pamungkas, Rabu (22/2/2017), membenarkan beredarnya kabar pernikahan gaib tersebut melalui media sosial.


Sebagai tindakan, kepolisian juga telah melakukan pengumpulan bahan keterangan dari beberapa pihak, termasuk Isay Judae.
“Intinya, kabar yang beredar memang seperti itu. Pada dasarnya, kami telah melakukan koordinasi dengan pihak damang dan mantir adat sampai ke tingkat desa terkait kabar ini,” kata Tato

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.