Connect with us

News

Haduh, Ada 6.000 Balita Alami Stunting

Published

on

Balita

Kilasjogja.com, SLEMAN – Permasalahan terkait balita stunting (bayi pendek) di Kabupaten Sleman mencapai 11,9 persen.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Bagian (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan Sleman, dr Bambang Suharjana pada Sosialisasi Penanggulangan Stunting Secara Dini di Pendapa Rumah Dinas Bupati Sleman.

Meski masih ada permasalahan terkait balita stunting, namun menurut Bambang, permasalahan gizi di Kabupaten Sleman pada tahun 2017 mengalami penurunan.

“Pada tahun sebelumya, 2015-2016, rata-rata berkisar 12% kasus stunting ini. Artinya ini sudah ada penurunan lagi dengan perkiraan sekitar 6.000 balita mengalami stunting,” terang Bambang.

Sementara Nutrisionis Dinkes Sleman Sri Mujianto memaparkan, balita penderita stunting terdapat di lima kecamatan di Sleman yaitu, Minggir, Sayegan, Moyudan, Prambanan dan Kalasan. “Saat ini kita baru mulai analisis mengapa terjadi di 5 kecamatan tersebut,” ungkapnya

Menurut Mujianto, beberapa faktor dapat menjadi penyebab terjadinya permasalahan gizi di suatu daerah. Seperti kemiskinan yang sangat erat kaitannya dengan permasalahan tersebut.

“Sebenarnya banyak sekali faktornya, bisa kemiskinan, pola asuh, pendidikan, dan kita belum tahu faktor mana yang paling berpengaruh,” jelas Mujianto.

Sedangkan Wakil Bupati Sri Muslimatun menjelaskan, permasalahan stunting ini tidak bisa diselesaikan oleh pihak tertentu saja, namun membutuhkan dukungan lintas program dan lintas sektoral.

“Oleh karena itu seluruh pihak terkait untuk dapat bersama-sama menekan kasus stunting serta permasalahan gizi lainnya di Kabupaten Sleman dengan cara berperan aktif dalam menyelesaikan permasalahan sosial masyarakat sesuai dengan bidang kerjanya masing-masing,” ujarnya

Sementara itu, Hasil riset kesehatan dasar nasional tentang bayi stunting atau bayi pendek masih menunjukkan angka yang tinggi, sekitar 37,2 persen.

Balita stunting membuat menurunnya produktivitas kemampuan bersaing sehingga menurunkan pendapatan. Ini terbukti dari studi menunjukkan bahwa stunting menurunkan penghasilan saat dewasa sebesar 20 persen. Kurang gizi menyebabkan lemahnya sistem imunitas sehingga rentan terhadap infeksi.

1.000 hari pertama kehidupan menjadi intervensi terbaik untuk masa depan bangsa dengan gizi ibu berkualitas, air susu ibu (ASI) eksklusif, dan ASI serta Makanan Pendamping ASI berkualitas (MPASI).

Sehingga, asupan makanan yang bergizi tidak menambah tinggi badan melainkan tumbuh ke samping. Fungsi organ lainnya yang terganggu juga membuat anak stunting bisa menderita penyakit diabetes.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.