Connect with us

Kulonprogo

BERAS PREMIUM: Gapoktan Ditarget Produksi 5,5 Ton

Published

on

Beras

Kilasjogja.com, KULONPROGO – Dinas Pertanian dan Pangan (PP) Kulonprogo menargetkan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) mampu memproduksi beras dengan kualitas premium 5,5 ton per bulan. Beras berasal dari gabah panenan petani asal Kulonprogo.

Kepala Dinas PP Kulonprogo, Bambang Tri Budi Hartono mengungkapkan menyiapkan tujuh Gapoktan menyatakan kesiapan mengolah gabah dari panenan petani dari beras kualitas medium ke beras premium.

“Target kapasitas produksi pertama mampu memproduksi beras premium minimal 5,5 ton yang akan dipasarkan ke Tomira (Toko Milik Rakyat). Kapasitas produksi berikutnya terus meningkat,” terangnya.

Gapoktan yang tergabung dalam Asosiasi Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (ALDPM) sudah mengirimkan contoh beras premium ke Dinas PP.

Termasuk Gapoktan yang memproduksi beras organik dari panenan padi varietas lokal Melati Menoreh (Menor).

Menurutnya, beras premium siap dipasarkan di 13 Tomira yang dikelola koperasi. Kapasitas produksi diupayakan terus meningkat seiring pasaran diperluas ke para pegawai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Baik beras premium dipasarkan dalam kemasan 5 kilogram (kg). Setiap Tomira ditargetkan dalam satu bulan mampu memasarkan minimal 200 kuintal.

Perbedaan antara beras medium dan beras premium berasal dari proses pengolahan yang tampak pada hasil akhir.

Beras premium diolah dengan mesin penyortir khusus yang bisa memunculkan beras dengan standar tanpa menir, tanpa ada patahan dan kadar kotoran lebih sedikit serta sejumlah standar lainnya.

“Pada 2017, kami memberikan dana pemberdayaan sekitar Rp1,9 miliar dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) bagi enam gapoktan dalam menyediakan beras premium,” jelasnya.

Yuliwati, Kepala Seksi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pangan menjelaskan ALDPM dengan koperasi pengelola Tomira sudah menandatangan kerjasama untuk pemasaran beras premium dari gabah panenan petani asal Kulonprogo.

Menurutnya, dalam perjanjian kerja sama harga beras Rp 52.500 per kemasan. Harga tersebut sudah termasuk biaya transportasi dari pusat pengolahan beras sampai Tomira.

“Sebagian beras premium sudah didistribusikan ke Tomira,” ungkapnya.

Namun demikian, pihaknya belum menentukan harga beras tersebut, dan masih akan menyesuaikan dengan peraturan pemerintah.

Dia mengatakan cukup prihatin dengan munculnya Peraturan Kementerian Perdagangan Nomor 47/2017 mengenai Harga Eceran Tertinggi beras, yang baru saja ditarik kembali.

Permendag mengatur harga beras petani Rp 9.000/kg, untuk semua jenis beras. Bahkan HET menjadi lebih murah dibanding sebelumnya Rp 9.500.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.