Connect with us

Lifestyle

4 Wanita Hebat Hidup Tanpa Sampah Plastik

Published

on

sampah plastik

Kilasjogja.com, LIFESTYLE – Tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh sampah plastik pada lingkungan kita semakin memperihatinkan, segala kegiatan hidup yang kita jalani tidak terlepas dari material satu ini.

Bahkan bahan berbahaya ini sudah menembus sebagian barang konsumen yang kita pergunakan sehari-hari seperti minum, makan dan berbelanja keperluan sehari-hari.

hal yang lebih memperparah keadaan adalah dimana Gundukan sampah plastik berada didarat, laut dan memberikan penderitaan pada ikan dan organisme lainya yang tidak terhitung sebagai konsekuensi negatif dari sampah plastik.

Penemuan terbaru mengungkapkan bahwa plastik dengan bahan biodegradable tidak dapat terdegradasi dengan berbagai cara yang ada pada saat ini. hanya sekitar 9% saja jenis plastik yang bisa di benar-benar di daur ulang.

Tidak peduli seberapa singkat kita menggunakannya, barang plastik tidak pernah hilang sama sekali. Tampaknya satu-satunya solusi untuk plasticalypse sekarang adalah untuk berhenti membeli dan menggunakan bahan ini atau paling tidak, untuk mengurangi penggunaan plastik kita sejauh yang kita bisa.

inilah ke tujuh orang yang mungkin bisa memberikan inspirasi bagi kita semua untuk tidak lagi menggunakan plastik pada kehidupan sehari-hari berbagi pengalaman, kesan dan tip untuk membuat kebiasaan buruk ini sedikit lebih mudah bagi kita semua.

1. Erin Rhoads, a.k.a The Rogue Ginger

Erin Rhoads

Erin Rhoads Aktivis Daur Ulang Sampah Images by news.com.au

Bebas plastik selama lebih dari dua tahun, Erin Rhoads menceritakan perjalanannya ke gaya hidup tanpa limbah di blognya, The Rogue Ginger, yang berisi tip dan saran bermanfaat tentang plastik.

Perempuan asal Melbourne Australia, untuk mulai hidup dengan tidak menggunakan barang-barang plastik maupun tidak membuang sampah. Dan hasilnya, setelah memulai komitmennya sejak tahun 2013 lalu, Erin hanya ‘menghasilkan’ sampah sebanyak satu toples saja. Iya lo, barang-barang yang tidak bisa di daur-ulangnya, disimpannya dalam satu toples itu, misalnya bungkus obat, tag baju.

Tidak hanya itu saja, desainer grafis yang dalam kesehariannya juga sibuk dalam pekerjaannya ini, tetap bisa menjaga kecantikannya dengan membuat masker kecantikannya sendiri dari bahan alami, bahkan untuk kosmetik dan pasta gigi, Erin memilih membuatnya sendiri.

Terinspirasi oleh sebuah film dokumenter berjudul The Clean Bin Project yang ditontonnya pada tahun 2013, tentang dua orang di Kanada yang berkomitmen untuk tidak berbelanja barang apapun yang baru selama satu tahun dan berusaha untuk tidak membuat sampah. Itulah yang menyadarkannya dan membuatnya ingin melakukan perubahan dalam hidupnya, yaitu jumlah sampah yang dihasilkannya dalam kehidupan sehari-hari yang ternyata bisa membawa dampak negatif bagi dirinya maupun orang lain. Dia tidak mau membebani generasi mendatang dengan sampah-sampahnya yang dihasilkannya. Dia merasa bertanggung-jawab untuk setiap sampah yang dihasilkannya.

2. Lindsay Miles, penulis buku That’s a Wrap

Lindsay Miles, seorang warga di Perth, Australia Barat, sejak 5 tahun lalu menjalani diet tanpa plastik. Sebuah gaya hidup yang dimulainya setelah menonton film dokumenter “BAG IT!.

“Pada saat saya mulai mengikuti tantangan hidup bebas dari plastik ini, saya berpikir gaya hidup ini sangat berkelanjutan. Saya membawa sendiri tas saya ke toko dan saya mendaur ulang segala hal. Dan kemudian saya pulang ke rumah dan mulai memperhatikan kalau ada lebih banyak plastik yang saya gunakan dan saya tidak menyadarinya,” kata Miles.

Pada saat yang bersamaan, dia mulai melakukan riset dan mendapati kalau daur ulang ternyata bukan solusi yang berkelanjutan bagi penggunaan plastik, padahal dia sebelumnya berpikir itu merupakan solusi. “Plastik secara teknis tidak didaur ulang. Plastik hanya bisa diturunkan siklus daur ulangnya dan dibuat menjadi plastik dengan kualitas yang lebih rendah. Dan mungkin plastik hanya bisa di daur ulang sebanyak dua kali sebelum akhirnya berakhir menjadi limbah di tempat pembuangan akhir,” jelasnya.

Lindsay Miles tidak langsung benar-benar menyingkirkan seluruh benda-benda yang terbuat dari plastik di dalam rumahnya. “Hal pertama yang saya lakukan adalah tidak pernah membeli sesuatu yang dibungkus oleh plastik – tapi belilah sesuatu yang dikemas didalam kemasan kaca, kertas atau kardus atau belilah sesuatu yang tidak dikemas sama sekali. Kemudian saya mulai membuat satu tantangan yang diikuti oleh tantangan lain. Dan tidak pernah mundur lagi,” katanya.

Pages: 1 2

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.